Agus Subandi
I'rab Al-Qur'an Surat An Naas
>> TUESDAY, NOVEMBER 17, 2009
QUR'AN SURAT AN NAAS
سورة الناس
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
(قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ (1) مَلِكِ النَّاسِ (2) إِلهِ النَّاسِ (3) مِنْ شَرِّ الْوَسْواسِ الْخَنَّاسِ (4
(الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ (5) مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ (6
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia. Sesembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan) syaitan yang biasa bersembunyi, yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia, dari (golongan) jin dan manusia.
I’rab (الإعراب)
(قُلْ)
(katakanlah)
fi’il amr, mabni 'ala sukun, failnya adalah dhamir mustatir yang taqdirnya أَنْتَ (anta, kamu, orang yang diajak bicara)
(أَعُوذُ)
(aku berlindung)
fi’il mudhari’, marfu’ tanda rafa’nya adalah dhammah, failnya adalah dhamir mustatir yang taqdirnya أَنَا
(بِرَبِّ النَّاسِ)
(kepada Rabbnya manusia)
بِرَبِّ jar dan majrur muta’aliq (berkaitan) dengan أَعُوذُ ,
رَبِّ majrur dengan tanda jar berupa kasrah, karena merupakan isim mufrad. النَّاسِ mudhaf ilaih dari رَبِّ, majrur dengan tanda jar berupa kasrah, merupakan bentuk jamak taksir dari insan (الإنسان).
(مَلِكِ النَّاسِ)
(rajanya manusia)
مَلِكِ badal dari رَبِّ , - atau merupakan na’at atau athaf bayan alaihi -, majrur dengan tanda jar kasrah, karena isim mufrad.
النَّاسِ sudah dibahas di atas.
(إِلهِ النَّاس)
(sesembahan manusia)
badal dari مَلِكِ , majrur dengan tanda jar kasrah, karena isim mufrad.
النَّاسِ sudah dibahas di atas.
(مِنْ شَرّ)
(dari kejelekan)
jar majrur muta’alliq dengan أَعُوذُ,
شَرّ majrur dengan tanda jar kasrah, karena isim mufrad.
(الْوَسْواسِ الْخَنَّاسِ)
(was-was/ bisikan yang syaithan tersembunyi)
mudhaf ilaihi dari شَرِّ majrur tanda jarnya kasrah. الْوَسْواسِ adalah pelaku dari was-was. الْخَنَّاسِ sifat dari الْوَسْواسِ , majrur juga, makna asalnya adalah mengecil/sembunyi/ melemah. Maksudnya jika seorang mengingat Allah maka syaithan akan mengecil, namun jika seseorang lupa atau lalai, syaithan akan membesar.
(الَّذِي يُوَسْوِسُ)
(yang membisikkan)
الَّذِي isim maushul fii mahalli jarin, sifat dari الْوَسْواسِ
يُوَسْوِسُ shilah maushul, berupa jumlah fi’liyah, fi’il mudhari’ marfu’ tanda rafa’nya dhammah, failnya dhamir mustatir kembalinya kepada dia (هو).
(فِي صُدُورِ النَّاسِ)
(dalam dada-dada manusia)
jar dan majrur muta’aliq (berkaitan) dengan يُوَسْوِسُ,
صُدُورِ majrur dengan tanda jar berupa kasrah, isim jamak taksir.
النَّاسِ mudhaf ilaihi dari صُدُورِ , majrur juga.
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
(dari golongan jin dan manusia)
jar majrur muta’alliq dengan failnya يُوَسْوِسُ ,
. الْجِنَّةِmajrur, tanda jarnya kasrah. وَ wawu athaf bersandar pada الْجِنَّةِ.
النَّاسِ majrur juga.
kalimat: «قل ...» tidak ada kedudukan padanya, permulaan.
kalimat: «أعوذ ...» pada kedudukan nashab, مقول القول apa yang dikatakan dari perkatakan.
kalimat: «يوسوس ...» tidak ada kedudukan padanya, shilah maushul dari (الذي).
Senin, 08 Agustus 2011
I'rab Surat al Falaq
Agus Subandi
I'rab Al-Qur'an Surat Al Falaq
>> TUESDAY, NOVEMBER 24, 2009
SURAT AL FALAQ
سورة الفلق
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ ما خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غاسِقٍ إِذا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حاسِدٍ إِذا حَسَدَ (5) 5
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki".
I’rab
(الإعراب)
قُلْ
(katakanlah)
fi’il amr, mabni 'ala sukun, failnya adalah dhamir mustatir yang taqdirnya أَنْتَ (anta, kamu, orang yang diajak bicara)
أَعُوذُ
(aku berlindung)
fi’il mudhari’, marfu’ tanda rafa’nya adalah dhammah, failnya adalah dhamir mustatir yang taqdirnya أَنَا
بِرَبِّ الْفَلَقِ
(kepada Rabbnya waktu subuh) Rabb yang menguasai waktu subuh
بِرَبِّ jar dan majrur muta’aliq (berkaitan) dengan أَعُوذُ ,
رَبِّ majrur dengan tanda jar berupa kasrah, karena merupakan isim mufrad. الْفَلَقِ mudhaf ilaih dari رَبِّ, majrur dengan tanda jar berupa kasrah, isim mufrad.
مِنْ شَرّ
(dari kejelekan)
jar majrur muta’alliq dengan أَعُوذُ,
dalam QS. Al Falaq ini terdapat 4 pengulangan مِنْ شَرّ.
شَرّ majrur dengan tanda jar kasrah, karena isim mufrad.
ما خَلَقَ
(apa yang Allah cipta/makhluk)
ما isim maushul fi mahalli jarrin, mudhaf ilaihi dari شَرّ , mbani ‘ala sukun.
خَلَقَ fi’il madhi mabni ‘alaa fathi dan failnya dhamir mustatir jawazan taqdirnya dia (هو). kalimat «خلق ...» adalah shilah maushul, tidak ada kedudukan i’rab padanya dan kembali pada al maushul dhamir makhdzuf (dhamir yang dihilangkan)
وَمِنْ شَرِّ غاسِقٍ إِذا وَقَبَ
(dan dari kejelekan malam ketika gelap)
وَ wawu athaf.
مِنْ شَرِّ jar majrur muta’alliq dengan أَعُوذُ,
شَرّ majrur dengan tanda jar kasrah, karena isim mufrad.
غاسِقٍ mudhaf ilaihi dari شَرّ, majrur, tanda jarnya kasrah.
إِذا وَقَبَ dharaf zaman, fii mahalli nashbin (pada kedudukan nashab),
muta’alliq (berkaitan dengan) شَرِّ غاسِقٍ
وَقَبَ fi'il madhi, mabni 'ala fathi, failnya dhamir mustatir jawazan, taqdirnya هو
وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثاتِ فِي الْعُقَدِ
(dan dari kejelekan malam ketika gelap)
وَمِنْ شَرِّ penjelasannya sama seperti sebelumnya.
النَّفَّاثاتِ mudhaf ilaihi dari شَرّ, majrur, tanda jarnya kasrah
فِي الْعُقَدِ jar majrur muta’alliq dengan النَّفَّاثاتِ
الْعُقَدِ majrur dengan tanda jar kasrah, isim mufrad
وَمِنْ شَرِّ حاسِدٍ إِذا حَسَدَ
(dan dari kejelekan malam ketika gelap)
وَمِنْ شَرِّ penjelasannya sama seperti sebelumnya.
حاسِدٍ mudhaf ilaihi dari شَرّ, majrur, tanda jarnya kasrah
إِذا حَسَدَ dharaf zaman, fii mahalli nashbin (pada kedudukan nashab), muta’alliq (berkaitan dengan) mashdar شَرِّ حاسِدٍ
حَسَدَ fi'il madhi, mabni 'ala fathi, failnya dhamir mustatir jawazan, taqdirnya هو
kalimat: «قل ...» tidak ada kedudukan padanya, permulaan.
kalimat: «أعوذ ...» pada kedudukan nashab, مقول القول apa yang dikatakan dari perkatakan.
kalimat: «خلق ...» tidak ada kedudukan padanya, shilah maushul dari (ما).
I'rab Al-Qur'an Surat Al Falaq
>> TUESDAY, NOVEMBER 24, 2009
SURAT AL FALAQ
سورة الفلق
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ (1) مِنْ شَرِّ ما خَلَقَ (2) وَمِنْ شَرِّ غاسِقٍ إِذا وَقَبَ (3) وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثاتِ فِي الْعُقَدِ (4) وَمِنْ شَرِّ حاسِدٍ إِذا حَسَدَ (5) 5
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan Yang Menguasai subuh, dari kejahatan makhluk-Nya, dan dari kejahatan malam apabila telah gelap gulita, dan dari kejahatan wanita-wanita tukang sihir yang menghembus pada buhul-buhul dan dari kejahatan pendengki bila ia dengki".
I’rab
(الإعراب)
قُلْ
(katakanlah)
fi’il amr, mabni 'ala sukun, failnya adalah dhamir mustatir yang taqdirnya أَنْتَ (anta, kamu, orang yang diajak bicara)
أَعُوذُ
(aku berlindung)
fi’il mudhari’, marfu’ tanda rafa’nya adalah dhammah, failnya adalah dhamir mustatir yang taqdirnya أَنَا
بِرَبِّ الْفَلَقِ
(kepada Rabbnya waktu subuh) Rabb yang menguasai waktu subuh
بِرَبِّ jar dan majrur muta’aliq (berkaitan) dengan أَعُوذُ ,
رَبِّ majrur dengan tanda jar berupa kasrah, karena merupakan isim mufrad. الْفَلَقِ mudhaf ilaih dari رَبِّ, majrur dengan tanda jar berupa kasrah, isim mufrad.
مِنْ شَرّ
(dari kejelekan)
jar majrur muta’alliq dengan أَعُوذُ,
dalam QS. Al Falaq ini terdapat 4 pengulangan مِنْ شَرّ.
شَرّ majrur dengan tanda jar kasrah, karena isim mufrad.
ما خَلَقَ
(apa yang Allah cipta/makhluk)
ما isim maushul fi mahalli jarrin, mudhaf ilaihi dari شَرّ , mbani ‘ala sukun.
خَلَقَ fi’il madhi mabni ‘alaa fathi dan failnya dhamir mustatir jawazan taqdirnya dia (هو). kalimat «خلق ...» adalah shilah maushul, tidak ada kedudukan i’rab padanya dan kembali pada al maushul dhamir makhdzuf (dhamir yang dihilangkan)
وَمِنْ شَرِّ غاسِقٍ إِذا وَقَبَ
(dan dari kejelekan malam ketika gelap)
وَ wawu athaf.
مِنْ شَرِّ jar majrur muta’alliq dengan أَعُوذُ,
شَرّ majrur dengan tanda jar kasrah, karena isim mufrad.
غاسِقٍ mudhaf ilaihi dari شَرّ, majrur, tanda jarnya kasrah.
إِذا وَقَبَ dharaf zaman, fii mahalli nashbin (pada kedudukan nashab),
muta’alliq (berkaitan dengan) شَرِّ غاسِقٍ
وَقَبَ fi'il madhi, mabni 'ala fathi, failnya dhamir mustatir jawazan, taqdirnya هو
وَمِنْ شَرِّ النَّفَّاثاتِ فِي الْعُقَدِ
(dan dari kejelekan malam ketika gelap)
وَمِنْ شَرِّ penjelasannya sama seperti sebelumnya.
النَّفَّاثاتِ mudhaf ilaihi dari شَرّ, majrur, tanda jarnya kasrah
فِي الْعُقَدِ jar majrur muta’alliq dengan النَّفَّاثاتِ
الْعُقَدِ majrur dengan tanda jar kasrah, isim mufrad
وَمِنْ شَرِّ حاسِدٍ إِذا حَسَدَ
(dan dari kejelekan malam ketika gelap)
وَمِنْ شَرِّ penjelasannya sama seperti sebelumnya.
حاسِدٍ mudhaf ilaihi dari شَرّ, majrur, tanda jarnya kasrah
إِذا حَسَدَ dharaf zaman, fii mahalli nashbin (pada kedudukan nashab), muta’alliq (berkaitan dengan) mashdar شَرِّ حاسِدٍ
حَسَدَ fi'il madhi, mabni 'ala fathi, failnya dhamir mustatir jawazan, taqdirnya هو
kalimat: «قل ...» tidak ada kedudukan padanya, permulaan.
kalimat: «أعوذ ...» pada kedudukan nashab, مقول القول apa yang dikatakan dari perkatakan.
kalimat: «خلق ...» tidak ada kedudukan padanya, shilah maushul dari (ما).
I'rab Surat al Lahab
Agus Subandi
I'rab Al-Qur'an Surat Al Lahab
>> WEDNESDAY, DECEMBER 16, 2009
SURAT AL LAHAB
سورة اللهب
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
تَبَّتْ يَدا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) ما أَغْنى عَنْهُ مالُهُ وَما كَسَبَ (2) سَيَصْلى ناراً ذاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4)4) فِي جِيدِها حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)5)
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar
Yang di lehernya ada tali dari sabut.
تَبَّتْ يَدا
(Binasalah kedua tangan)
تَبَّتْ fi’il madhi mabni ala fathi, dengan makna yang akan datang karena doa atasnya. Ta’ adalah ta’ ta’nits sakinah.
يَدا adalah failnya تَبَّتْ , marfu’ dengan tanda rafa’nya adalah alif, karena merupakan isim mutsanna, asalnya يَدان , hilangnya nun, karena merupakan idhafah, sebagai mudhaf.
أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
(Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa )
أَبِي لَهَبٍ
(Abu Lahab)
أَبِي mudhaf ilaihi, majrur karena idhafah, dengan tanda jar berupa yaa’ karena merupakan asma’ul khamsah.
لَهَبٍ merupakan mudhaf ilaihi, majrur dengan tanda jar kasrah.
وَتَبَّ
(dan sesungguhnya dia akan binasa )
وَ : wawu athaf. تَبَّ : fi’il madhi mabni ‘ala fathi, failnya adalah dhamir mustatir taqdirnya adalah هو
Jadi kalau diterjemahkan menjadi:
Celaka/binasa lah kedua tangan Abu Lahab dan celakalah dia.
ما أَغْنى عَنْهُ
(Tidaklah berfaedah kepadanya)
ما : ma nafiyah, tidak ada amal padanya.
terdapat juga i’rab ما yang lain, yaitu sebagai isim istifham, pertanyaan, tapi bermakna pengingkaran. mabni ‘ala sukun fii mahalli nashbin, maf’ul bih muqaddam untuk fi’il أَغْنى atau fii mahalli raf’in, mutada’ dan khabarnya adalah jumlah أَغْنى dengan makna yaitu sesuatu yang bermanfaat padanya hartanya.
أَغْنى : fi’il madhi mabni/tetap di atas fathah yang diperkirakan di atas alif bengkok.
عَنْهُ, jar wa majrur muta’alliq dengan أَغْنى
مالُهُ وَما كَسَبَ
(harta bendanya dan apa yang ia usahakan.)
مالُهُ fa’ilnya أَغْنى, marfu’ dengan tanda rafa’ berupa dhammah, هُ dhamir muttashil, pada kedudukan jar, karena idhafah sebagai mudhaf ilaihi.
وَ , wawu athaf
ما isim maushul, mabni ’ala sukun, pada kedudukan rafa’ karena mengikuti مالُهُ
كَسَبَ fi’il madhi, mabni ‘ala fathi, failnya adalah dhamir mustatir jawazan, taqdirya adalah هو
Jadi kalau diterjemahkan menjadi:
Tidaklah bermanfaat padanya hartanya dan apa yang dia usahakan.
atau
Apakah akan bermanfaat padanya hartanya dan apa yang dia usahakan (jawabnya jelas tidak karena pengingkaran).
سَيَصْلى ناراً ذاتَ لَهَبٍ
(Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak)
سَ sin bermakna yang akan datang untuk taukid
يَصْلى fiil mudhari’, marfu’, tanda rafa’nya adalah dhammah yang diperkirakan di atas alif bengkok. Failnya adalah dhammir mustatir jawazan, taqdirnya adalah هو kembali kepada أَبِي لَهَبٍ.
ناراً merupakan maf’ul bihi dari يَصْلى , manshub dengan tanda nashab fathah.
ذاتَ لَهَبٍ , merupakan sifat atau na’at dari ناراً. sehingga juga manshub, tanda nashabnya adalah fathah, hilangnya tanwin pada ذاتَ karena merupakan mudhaf dari لَهَبٍ . karena hubungan idhafah, sebagai mudhaf ilaihi, maka لَهَبٍ majrur, dengan tanda jar berupa kasrah.
وَامْرَأَتُهُ
(Dan (begitu pula) istrinya)
وَ wawu athaf, athaf pada failnya سَيَصْلى yang berupa dhamir mustatir, sehingga maknanya menjadi akan masuk dia dan istrinya.
امْرَأَتُهُ i’rabnya mengikuti fail سَيَصْلى marfu’, dengan tanda rafa’ beruapa dhammah.
هُ merupakan mudhaf ilahi dari امْرَأَةُ. fii mahalli jarin
حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
(pembawa kayu bakar )
حَمَّالَةَ hal atau keterangan dari امْرَأَتُهُ , manshub dengan tanda nashab fathah, hilangnya nun karena merupakan mudhaf dari الْحَطَبِ.
الْحَطَبِ mudhaf ilaihi, majrur karena idhafah dengan tanda jar berupa kasrah.
Sehingga kalau diartikan:
Kelak dia (Abu Lahab) akan masuk ke dalam api yang bergejolak dan (begitu pula) istrinya dengan (dalam keadaan) membawa kayu bakar
فِي جِيدِها حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
(Yang di lehernya ada tali dari sabut)
فِي جِيدِها حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
jumlah ismiyah., pada kedudukan nashab, hal kedua dari امْرَأَتُهُ
فِي جِيدِ jar wa majrur muta’alliq dengan khabar muqaddam .
ها dhamir muttashil, mabni ‘ala sukun, fii mahalli jarin, karena idhafah.
حَبْلٌ mutada’ muakhar, marfu’ dengan tanda rafa’nya berupa dhammah.
مِنْ مَسَدٍ jar wa majrur muta’alliq dengan shifat yang dihilangkan dari حَبْلٌ dan مِنْ huruf jar bayani . مَسَدٍ majrur dengan tanda jar berupa kasrah.
Sehingga kalau diartikan:
istrinya dengan (dalam keadaan) membawa kayu bakar, dan dalam keadaan di lehernya ada tali dari sabut (neraka).
kalimat « تبّت يدا ... » : tidak ada kedudukan padanya karena ibtida’iyah/permulaan.
kalimat « تبّ ... » : tidak ada kedudukan padanya karena mengikuti kalimat ibtida’iyah.
kalimat « ما أغنى عنه ماله ... » : tidak ada kedudukan padanya karena isti’nafiyah/permulaan.
kalimat « كسب ... » : tidak ada kedudukan padanya, shilah maushul dari huruf ما
kalimat «سيصلى ...» : tidak ada kedudukan padanya, isti’naf bayani
kalimat «في جيدها حبل ...» : tidak ada kedudukan padanya, ist’naf bayani yang terakhir.
Keterangan tambahan
(أبو لهب)
Abu Lahab, kunyah dari Abdul Aziz, paman nabi صلى اللّه عليه وسلّم , diberi nama kunyah seperti itu karena wajahnya bergejolak, bersinar2, menyala-nyala (makna dcari kata لهب).
(حمّالة)
muannats dari حمّال shighah mubalaghah, isim fail dari tsulatsi حمل, wazannya فعّالة.
(جيد)
isim jamid dengan makna العنق (leher). wazannya فعل dengan kasrah kemudian disukun.
(مسد)
isim jamid dengan makna ليف (sabut), wazannya فعل dengan dua fathah.
I'rab Al-Qur'an Surat Al Lahab
>> WEDNESDAY, DECEMBER 16, 2009
SURAT AL LAHAB
سورة اللهب
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
تَبَّتْ يَدا أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ (1) ما أَغْنى عَنْهُ مالُهُ وَما كَسَبَ (2) سَيَصْلى ناراً ذاتَ لَهَبٍ (3) وَامْرَأَتُهُ حَمَّالَةَ الْحَطَبِ (4)4) فِي جِيدِها حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ (5)5)
Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa
Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar
Yang di lehernya ada tali dari sabut.
تَبَّتْ يَدا
(Binasalah kedua tangan)
تَبَّتْ fi’il madhi mabni ala fathi, dengan makna yang akan datang karena doa atasnya. Ta’ adalah ta’ ta’nits sakinah.
يَدا adalah failnya تَبَّتْ , marfu’ dengan tanda rafa’nya adalah alif, karena merupakan isim mutsanna, asalnya يَدان , hilangnya nun, karena merupakan idhafah, sebagai mudhaf.
أَبِي لَهَبٍ وَتَبَّ
(Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa )
أَبِي لَهَبٍ
(Abu Lahab)
أَبِي mudhaf ilaihi, majrur karena idhafah, dengan tanda jar berupa yaa’ karena merupakan asma’ul khamsah.
لَهَبٍ merupakan mudhaf ilaihi, majrur dengan tanda jar kasrah.
وَتَبَّ
(dan sesungguhnya dia akan binasa )
وَ : wawu athaf. تَبَّ : fi’il madhi mabni ‘ala fathi, failnya adalah dhamir mustatir taqdirnya adalah هو
Jadi kalau diterjemahkan menjadi:
Celaka/binasa lah kedua tangan Abu Lahab dan celakalah dia.
ما أَغْنى عَنْهُ
(Tidaklah berfaedah kepadanya)
ما : ma nafiyah, tidak ada amal padanya.
terdapat juga i’rab ما yang lain, yaitu sebagai isim istifham, pertanyaan, tapi bermakna pengingkaran. mabni ‘ala sukun fii mahalli nashbin, maf’ul bih muqaddam untuk fi’il أَغْنى atau fii mahalli raf’in, mutada’ dan khabarnya adalah jumlah أَغْنى dengan makna yaitu sesuatu yang bermanfaat padanya hartanya.
أَغْنى : fi’il madhi mabni/tetap di atas fathah yang diperkirakan di atas alif bengkok.
عَنْهُ, jar wa majrur muta’alliq dengan أَغْنى
مالُهُ وَما كَسَبَ
(harta bendanya dan apa yang ia usahakan.)
مالُهُ fa’ilnya أَغْنى, marfu’ dengan tanda rafa’ berupa dhammah, هُ dhamir muttashil, pada kedudukan jar, karena idhafah sebagai mudhaf ilaihi.
وَ , wawu athaf
ما isim maushul, mabni ’ala sukun, pada kedudukan rafa’ karena mengikuti مالُهُ
كَسَبَ fi’il madhi, mabni ‘ala fathi, failnya adalah dhamir mustatir jawazan, taqdirya adalah هو
Jadi kalau diterjemahkan menjadi:
Tidaklah bermanfaat padanya hartanya dan apa yang dia usahakan.
atau
Apakah akan bermanfaat padanya hartanya dan apa yang dia usahakan (jawabnya jelas tidak karena pengingkaran).
سَيَصْلى ناراً ذاتَ لَهَبٍ
(Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak)
سَ sin bermakna yang akan datang untuk taukid
يَصْلى fiil mudhari’, marfu’, tanda rafa’nya adalah dhammah yang diperkirakan di atas alif bengkok. Failnya adalah dhammir mustatir jawazan, taqdirnya adalah هو kembali kepada أَبِي لَهَبٍ.
ناراً merupakan maf’ul bihi dari يَصْلى , manshub dengan tanda nashab fathah.
ذاتَ لَهَبٍ , merupakan sifat atau na’at dari ناراً. sehingga juga manshub, tanda nashabnya adalah fathah, hilangnya tanwin pada ذاتَ karena merupakan mudhaf dari لَهَبٍ . karena hubungan idhafah, sebagai mudhaf ilaihi, maka لَهَبٍ majrur, dengan tanda jar berupa kasrah.
وَامْرَأَتُهُ
(Dan (begitu pula) istrinya)
وَ wawu athaf, athaf pada failnya سَيَصْلى yang berupa dhamir mustatir, sehingga maknanya menjadi akan masuk dia dan istrinya.
امْرَأَتُهُ i’rabnya mengikuti fail سَيَصْلى marfu’, dengan tanda rafa’ beruapa dhammah.
هُ merupakan mudhaf ilahi dari امْرَأَةُ. fii mahalli jarin
حَمَّالَةَ الْحَطَبِ
(pembawa kayu bakar )
حَمَّالَةَ hal atau keterangan dari امْرَأَتُهُ , manshub dengan tanda nashab fathah, hilangnya nun karena merupakan mudhaf dari الْحَطَبِ.
الْحَطَبِ mudhaf ilaihi, majrur karena idhafah dengan tanda jar berupa kasrah.
Sehingga kalau diartikan:
Kelak dia (Abu Lahab) akan masuk ke dalam api yang bergejolak dan (begitu pula) istrinya dengan (dalam keadaan) membawa kayu bakar
فِي جِيدِها حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
(Yang di lehernya ada tali dari sabut)
فِي جِيدِها حَبْلٌ مِنْ مَسَدٍ
jumlah ismiyah., pada kedudukan nashab, hal kedua dari امْرَأَتُهُ
فِي جِيدِ jar wa majrur muta’alliq dengan khabar muqaddam .
ها dhamir muttashil, mabni ‘ala sukun, fii mahalli jarin, karena idhafah.
حَبْلٌ mutada’ muakhar, marfu’ dengan tanda rafa’nya berupa dhammah.
مِنْ مَسَدٍ jar wa majrur muta’alliq dengan shifat yang dihilangkan dari حَبْلٌ dan مِنْ huruf jar bayani . مَسَدٍ majrur dengan tanda jar berupa kasrah.
Sehingga kalau diartikan:
istrinya dengan (dalam keadaan) membawa kayu bakar, dan dalam keadaan di lehernya ada tali dari sabut (neraka).
kalimat « تبّت يدا ... » : tidak ada kedudukan padanya karena ibtida’iyah/permulaan.
kalimat « تبّ ... » : tidak ada kedudukan padanya karena mengikuti kalimat ibtida’iyah.
kalimat « ما أغنى عنه ماله ... » : tidak ada kedudukan padanya karena isti’nafiyah/permulaan.
kalimat « كسب ... » : tidak ada kedudukan padanya, shilah maushul dari huruf ما
kalimat «سيصلى ...» : tidak ada kedudukan padanya, isti’naf bayani
kalimat «في جيدها حبل ...» : tidak ada kedudukan padanya, ist’naf bayani yang terakhir.
Keterangan tambahan
(أبو لهب)
Abu Lahab, kunyah dari Abdul Aziz, paman nabi صلى اللّه عليه وسلّم , diberi nama kunyah seperti itu karena wajahnya bergejolak, bersinar2, menyala-nyala (makna dcari kata لهب).
(حمّالة)
muannats dari حمّال shighah mubalaghah, isim fail dari tsulatsi حمل, wazannya فعّالة.
(جيد)
isim jamid dengan makna العنق (leher). wazannya فعل dengan kasrah kemudian disukun.
(مسد)
isim jamid dengan makna ليف (sabut), wazannya فعل dengan dua fathah.
I'rab surat al Ma'uun
Agus Subandi
I'rab Al Qur'an Surat Al Maa'uun
>> THURSDAY, SEPTEMBER 30, 2010
SURAT AL MAA'UUN
سورة الماعون
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
orang-orang yang berbuat riya,
dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
أَرَأَيْتَ
(tahukah kamu)
أَ alif merupakan alif taqrir dan tanbih (peringatan) dalam lafadz istifham (tanya).
رَأَيْتَ
fi'il madhi mabni 'ala kashrah karena bersambung dengan dhamir rafa' mutaharik, dan ت merupakan dhamir muttashil, dhamir mukhatab, mabni 'ala fathi, pada kedudukan rafa' karena merupakan fail.
الَّذِي يُكَذِّبُ
(yang mendustakan)
الَّذِي isim maushul mabni 'ala sukun pada kedudukan nashab merupakan maf'ul bihi.
يُكَذِّبُ
fi'il mudhari' marfu' dengan tanda rafa' dhammah, dan failnya adalah dhamir mustatir fihi jawazan taqdirnya هو (dia).
Kalimat يُكَذِّبُ merupakan shillah maushul tidak ada kedudukan i'rab padanya.
بِالدِّينِ
(agama?)
jar wa majrur mutta'aliq dengan يُكَذِّبُ yaitu apakah kamu mengetahui orang yang mendustakan agama?
فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
فَذَٰلِكَ
(maka itulah)
ف fa waqi'ah sebagai jawab syarat muqadaran dengan makna bahwa kammu tidak
mengetahui orang yang mendustakan
ذا isim isyarah mabni 'ala sukun pada kedudukan rafa', mubtada, dan ل lam untuk sesudahnya, dan ك kaf untuk mukhatab.
الَّذِي
((orang) yang)
isim maushul, mabni 'ala sukun pada kedudukan rafa', khabar mubtada mahdzuf, taqdirnya هو (dia) dan jumlah ismiyah هوالذي pada kedudukan khabar ذالك dan jumlah fi'liyah setelahnya shillah maushul, tidak ada kedudukan i'rab padanya.
يَدُعُّ الْيَتِيمَ
(menghardik anak yatim,)
يَدُعُّ fi'il mudhari' marfu' dengan tanda rafa' berupa dhammah, dan failnya dhammir mustatir jawazan padanya, taqdirnya huwa.
الْيَتِيمَ maf'ul bihi, manshub dan tanda nashabnya adalah fathah,
maknanya yaitu menolak dengan kasar.
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
وَلَا يَحُضُّ
(dan tidak menganjurkan)
ma'thufiyah (mengikuti) dengan wawu, jadi و , wawu athaf. mengikut pada يَدُعُّ dan sudah dii'rab. dan لا laa nafiiyah untuk penekanan tidak.
عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
(memberi makan orang miskin.)
jar wa majrur muta'aliq dengan يَحُضُّ. al miskin mudhaf ilaihi majrur karena idhafah dan tanda jarnya adalah kasrah.
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
فَوَيْلٌ
(Maka kecelakaanlah)
ف faa isti'nafiyah.
وَيْلٌ mubtada marfu' dengan alamat rafa'nya dhammah, dan telah dijelaskan di atas.
لِّلْمُصَلِّينَ
(bagi orang-orang yang shalat,)
jar wa majrur mutta'aliq dengan khabar وَيْلٌ mahdzuf, dan alamat jarnya adalah isim ya karena merupakan jamak mudzakar salim, dan nun iwadh dari 2 tanwin dan harakat padanya mufrad.
الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
الَّذِينَ هُمْ
(yaitu) orang-orang yang)
isim maushul mabni 'ala fathi pada kedudukan jar, shifat/na'at dari musholin.
dan jumlah ismiyah setelahnya shilahnya, tidak ada kedudukan padanya.
هُمْ dhamir rafa' munfashil padanya kedudukan rafa' karena merupakan mubtada.
عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
(lalai dari shalatnya,)
عَن': huruf jar
صَلَاتِ isim majrur karena عَن dan tanda jarnya adalah kasrah
dan هِمْ him dhamir ghaib (orang ketiga) pada kedudukan jar karena idhofah dari sholat
jar dan majrur mutta'aliq dengan khabar هم hum
سَاهُونَ
khabarnya hum dan tanda rafa'nya wawu karena merupakan jamak mudzakkar salim dan nun 'iwadh dari 2 tanwin yang mufrad, asalnya ساهيون dan disembunyikan ya karena sukunnya dan sukun wawu, setelah disembunyikan dhammah yang apa pada yaa.
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
الَّذِينَ
(orang-orang yang)
الَّذِينَ isim maushul mabni 'ala fathi pada kedudukan jar karena badal dari الَّذِينَ yang disebut pada ayat sebelumnya.
هُمْ يُرَاءُونَ
(berbuat riya,)
jumlah ismiyah, shilah maushul dari الَّذِينَ , tidak ada kedudukan i'rab padanya.
هم : dhamir rafa' munfashil pada kedudukan rafa', mubtada'.
يُرَاءُونَ fi'il mudhari' marfu' dan tanda rafa'nya disebutkannya nun, wawu adalah dhamir muttashil pada kedudukan rafa' karena merupakan fail,
dan jumlah fi'liyah يُرَاءُونَ dalam kedudukan rafa', sebagai khabarnya هم hum.
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
وَيَمْنَعُونَ
(dan enggan (menolong dengan))
ma'thufiyah dengan wawu, ikut pada يُرَاءُونَ dan telah dii'rab di atas.
الْمَاعُونَ
(barang berguna.)
maful bihi manshub dengan tanda nashab fathah, yang dimaksud yaitu zakat.
I'rab Al Qur'an Surat Al Maa'uun
>> THURSDAY, SEPTEMBER 30, 2010
SURAT AL MAA'UUN
سورة الماعون
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
Tahukah kamu (orang) yang mendustakan agama?
Itulah orang yang menghardik anak yatim,
dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.
Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat,
(yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya,
orang-orang yang berbuat riya,
dan enggan (menolong dengan) barang berguna.
أَرَأَيْتَ الَّذِي يُكَذِّبُ بِالدِّينِ
أَرَأَيْتَ
(tahukah kamu)
أَ alif merupakan alif taqrir dan tanbih (peringatan) dalam lafadz istifham (tanya).
رَأَيْتَ
fi'il madhi mabni 'ala kashrah karena bersambung dengan dhamir rafa' mutaharik, dan ت merupakan dhamir muttashil, dhamir mukhatab, mabni 'ala fathi, pada kedudukan rafa' karena merupakan fail.
الَّذِي يُكَذِّبُ
(yang mendustakan)
الَّذِي isim maushul mabni 'ala sukun pada kedudukan nashab merupakan maf'ul bihi.
يُكَذِّبُ
fi'il mudhari' marfu' dengan tanda rafa' dhammah, dan failnya adalah dhamir mustatir fihi jawazan taqdirnya هو (dia).
Kalimat يُكَذِّبُ merupakan shillah maushul tidak ada kedudukan i'rab padanya.
بِالدِّينِ
(agama?)
jar wa majrur mutta'aliq dengan يُكَذِّبُ yaitu apakah kamu mengetahui orang yang mendustakan agama?
فَذَٰلِكَ الَّذِي يَدُعُّ الْيَتِيمَ
فَذَٰلِكَ
(maka itulah)
ف fa waqi'ah sebagai jawab syarat muqadaran dengan makna bahwa kammu tidak
mengetahui orang yang mendustakan
ذا isim isyarah mabni 'ala sukun pada kedudukan rafa', mubtada, dan ل lam untuk sesudahnya, dan ك kaf untuk mukhatab.
الَّذِي
((orang) yang)
isim maushul, mabni 'ala sukun pada kedudukan rafa', khabar mubtada mahdzuf, taqdirnya هو (dia) dan jumlah ismiyah هوالذي pada kedudukan khabar ذالك dan jumlah fi'liyah setelahnya shillah maushul, tidak ada kedudukan i'rab padanya.
يَدُعُّ الْيَتِيمَ
(menghardik anak yatim,)
يَدُعُّ fi'il mudhari' marfu' dengan tanda rafa' berupa dhammah, dan failnya dhammir mustatir jawazan padanya, taqdirnya huwa.
الْيَتِيمَ maf'ul bihi, manshub dan tanda nashabnya adalah fathah,
maknanya yaitu menolak dengan kasar.
وَلَا يَحُضُّ عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
وَلَا يَحُضُّ
(dan tidak menganjurkan)
ma'thufiyah (mengikuti) dengan wawu, jadi و , wawu athaf. mengikut pada يَدُعُّ dan sudah dii'rab. dan لا laa nafiiyah untuk penekanan tidak.
عَلَىٰ طَعَامِ الْمِسْكِينِ
(memberi makan orang miskin.)
jar wa majrur muta'aliq dengan يَحُضُّ. al miskin mudhaf ilaihi majrur karena idhafah dan tanda jarnya adalah kasrah.
فَوَيْلٌ لِّلْمُصَلِّينَ
فَوَيْلٌ
(Maka kecelakaanlah)
ف faa isti'nafiyah.
وَيْلٌ mubtada marfu' dengan alamat rafa'nya dhammah, dan telah dijelaskan di atas.
لِّلْمُصَلِّينَ
(bagi orang-orang yang shalat,)
jar wa majrur mutta'aliq dengan khabar وَيْلٌ mahdzuf, dan alamat jarnya adalah isim ya karena merupakan jamak mudzakar salim, dan nun iwadh dari 2 tanwin dan harakat padanya mufrad.
الَّذِينَ هُمْ عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
الَّذِينَ هُمْ
(yaitu) orang-orang yang)
isim maushul mabni 'ala fathi pada kedudukan jar, shifat/na'at dari musholin.
dan jumlah ismiyah setelahnya shilahnya, tidak ada kedudukan padanya.
هُمْ dhamir rafa' munfashil padanya kedudukan rafa' karena merupakan mubtada.
عَن صَلَاتِهِمْ سَاهُونَ
(lalai dari shalatnya,)
عَن': huruf jar
صَلَاتِ isim majrur karena عَن dan tanda jarnya adalah kasrah
dan هِمْ him dhamir ghaib (orang ketiga) pada kedudukan jar karena idhofah dari sholat
jar dan majrur mutta'aliq dengan khabar هم hum
سَاهُونَ
khabarnya hum dan tanda rafa'nya wawu karena merupakan jamak mudzakkar salim dan nun 'iwadh dari 2 tanwin yang mufrad, asalnya ساهيون dan disembunyikan ya karena sukunnya dan sukun wawu, setelah disembunyikan dhammah yang apa pada yaa.
الَّذِينَ هُمْ يُرَاءُونَ
الَّذِينَ
(orang-orang yang)
الَّذِينَ isim maushul mabni 'ala fathi pada kedudukan jar karena badal dari الَّذِينَ yang disebut pada ayat sebelumnya.
هُمْ يُرَاءُونَ
(berbuat riya,)
jumlah ismiyah, shilah maushul dari الَّذِينَ , tidak ada kedudukan i'rab padanya.
هم : dhamir rafa' munfashil pada kedudukan rafa', mubtada'.
يُرَاءُونَ fi'il mudhari' marfu' dan tanda rafa'nya disebutkannya nun, wawu adalah dhamir muttashil pada kedudukan rafa' karena merupakan fail,
dan jumlah fi'liyah يُرَاءُونَ dalam kedudukan rafa', sebagai khabarnya هم hum.
وَيَمْنَعُونَ الْمَاعُونَ
وَيَمْنَعُونَ
(dan enggan (menolong dengan))
ma'thufiyah dengan wawu, ikut pada يُرَاءُونَ dan telah dii'rab di atas.
الْمَاعُونَ
(barang berguna.)
maful bihi manshub dengan tanda nashab fathah, yang dimaksud yaitu zakat.
I'rab surat an Nashr
Agus Subandi
I'rab Al-Qur'an Surat An Nashr
>> WEDNESDAY, DECEMBER 23, 2009
SURAT AN NASHR
سورة النصر
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
إِذا جاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْواجاً (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كانَ تَوَّاباً (3)3)
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
I’RAB
الإعراب:
إِذا جاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
إِذا
(Apabila)
dharaf zaman untuk yang akan datang, mabni ’ala sukun, pada kedudukan nashab, mengandung makna syarat, tidak menjazmkan fiil-fiil setelahnya.
جاءَ نَصْرُ
jumlah fi’liyah, fii mahalli jarin, karena idhafah (syarat).
جاءَ
(telah datang)
fi’il madhi, mabni ‘ala fathi
نَصْرُ
(pertolongan)
fail dari جاءَ marfu’ dengan tanda rafa’ berupa dhammah.
اللَّهِ
(Allah)
lafdhul jalaalah, mudhaf ilaihi dari نَصْرُ , majrur dengan tanda jar berupa kasrah..
وَالْفَتْحُ
(dan kemenangan)
وَ wawu athaf kepada نَصْرُ. hi
الْفَتْحُ kedudukannya sama dengan نَصْرُ اللَّهِ, marfu’ dengan tanda rafa’ berupa dhammah. yang dimaksud dengan pertolongan Allah di sini adalah Allah menolong RasulNya yang mulia dengan membuka dan memenangkan/ fathul Makkah.
Disembunyikan maf’ul mashdar dari نصر , diperkirakan adalah Rasulullah yang mulia karena dianggap telah diketahui.
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْواجاً
وَ
(dan)
wawu athaf kepada جاءَ .
رَأَيْتَ
(kamu lihat)
رَأَي fi’il madhi, mabni ‘ala sukun, karena bersambung dengan dhamir di akhirnya. تَ adalah dhamir muttashil, dhamir mukhatab, mabni ‘ala fathi, fii mahalli raf’in karena berupa fail.
النَّاسَ
(manusia)
maf’ul bihi dari رَأَيْتَ , manshub dengan fathah.
يَدْخُلُونَ
(mereka masuk)
fi’il mudhari’, marfu’ dengan penyebutan nun, wawu adalah dhamir muttashil fii mahalli raf’in yang merupakan fail. Kalimat yang dimulai dengan يَدْخُلُونَ merupakan hal dari النَّاسَ.
فِي دِينِ اللَّهِ
(ke dalam agama Allah)
فِي دِينِ jar wa majrur mutta’alliq pada يَدْخُلُونَ.
اللَّهِ mudhaf ilaihi dari دِينِ , majrur dengan tanda jar berupa kasrah.
دِينِ اللَّهِ maksudnya jalan atau agama Islam.
أَفْواجاً
(dengan berbondong-bondong)
hal dari failnya يَدْخُلُونَ , manshub ‘ala fathi. maksudnya masuk dengan berbondong-bondong.
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كانَ تَوَّاباً
فَسَبِّحْ
(maka bertasbihlah)
فَ fa’ rabithah, jawab syarat.
سَبِّحْ fi’il amr, mabni ‘ala sukun, failnya dhamir mustatir fiihi wujuban taqdirnya انت . Yaitu katakanlah Maha Suci Allah.
بِحَمْدِ
(dengan memuji)
jar wa majrur, muta’alliq dengan سَبِّحْ
رَبِّكَ
(Tuhanmu)
mudhaf ilaihi dari حَمْدِ , tanda jarnya berupa kasrah. كَ adalah dhamir muttashil, dhamir mukhatab, mudhaf ilaihi dari رَبِّ , fii mahalli jarrin, mabni ’ala fathi.
وَاسْتَغْفِرْهُ
(dan mohonlah ampun kepada-Nya)
وَ wawu athaf kepada سَبِّحْ .
اسْتَغْفِرْ dii’rab seperti سَبِّحْ yaitu fi’il amr, mabni ‘ala sukun.
هُ dhamir muttashil, mabni ‘ala dhammi, fii mahalli nashbin, maf’ul bihi.
إِنَّهُ كانَ تَوَّاباً
إِنَّهُ
(Sesungguhnya Dia)
إِنَّ huruf nashab, dengan makna taukid serupa dengan fi’il. fa’ilnya adalah هُ, dhamir muttashil mabni ‘ala dhammi fii mahalli nashbin, isimnya إِنَّ. Jumlah fi’liyah sesudahnya merupakan khabar إِنَّ , fii mahalli raf’in.
كانَ
(adalah)
fi’il madhi, naqish, mabni ‘ala fathi, isimnya adalah dhamir mustair jawazan taqdirnya adalah هو .
تَوَّابا
(Maha Penerima taubat.)
khabarnya كانَ manshub, dengan tanda nashab berupa fathah.
kalimat «جاء نصر اللّه» fii mahalli jarrin, mudhaf ilaihi.
kalimat «رأيت ...» fii mahalli jarrin, mengikuti kalimat جاء نصر ....
kalimat «يدخلون ...» fii mahalli nashbin, hal dari الناس .
kalimat «سبّح ...» tidak ada kedudukan padanya, jawab syarat yang tidak jazm.
kalimat «استغفره ...» tidak ada kedudukan padanya karena mengikuti kalimat سبّح.
kalimat «إنّه كان توابا ...» tidak ada kedudukan padanya ta’liliyah/sebab.
kalimat «كان توّابا» fii mahalli raf’in khabar إنّ .
I'rab Al-Qur'an Surat An Nashr
>> WEDNESDAY, DECEMBER 23, 2009
SURAT AN NASHR
سورة النصر
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
إِذا جاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ (1) وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْواجاً (2) فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كانَ تَوَّاباً (3)3)
Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,
dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong,
maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penerima taubat.
I’RAB
الإعراب:
إِذا جاءَ نَصْرُ اللَّهِ وَالْفَتْحُ
إِذا
(Apabila)
dharaf zaman untuk yang akan datang, mabni ’ala sukun, pada kedudukan nashab, mengandung makna syarat, tidak menjazmkan fiil-fiil setelahnya.
جاءَ نَصْرُ
jumlah fi’liyah, fii mahalli jarin, karena idhafah (syarat).
جاءَ
(telah datang)
fi’il madhi, mabni ‘ala fathi
نَصْرُ
(pertolongan)
fail dari جاءَ marfu’ dengan tanda rafa’ berupa dhammah.
اللَّهِ
(Allah)
lafdhul jalaalah, mudhaf ilaihi dari نَصْرُ , majrur dengan tanda jar berupa kasrah..
وَالْفَتْحُ
(dan kemenangan)
وَ wawu athaf kepada نَصْرُ. hi
الْفَتْحُ kedudukannya sama dengan نَصْرُ اللَّهِ, marfu’ dengan tanda rafa’ berupa dhammah. yang dimaksud dengan pertolongan Allah di sini adalah Allah menolong RasulNya yang mulia dengan membuka dan memenangkan/ fathul Makkah.
Disembunyikan maf’ul mashdar dari نصر , diperkirakan adalah Rasulullah yang mulia karena dianggap telah diketahui.
وَرَأَيْتَ النَّاسَ يَدْخُلُونَ فِي دِينِ اللَّهِ أَفْواجاً
وَ
(dan)
wawu athaf kepada جاءَ .
رَأَيْتَ
(kamu lihat)
رَأَي fi’il madhi, mabni ‘ala sukun, karena bersambung dengan dhamir di akhirnya. تَ adalah dhamir muttashil, dhamir mukhatab, mabni ‘ala fathi, fii mahalli raf’in karena berupa fail.
النَّاسَ
(manusia)
maf’ul bihi dari رَأَيْتَ , manshub dengan fathah.
يَدْخُلُونَ
(mereka masuk)
fi’il mudhari’, marfu’ dengan penyebutan nun, wawu adalah dhamir muttashil fii mahalli raf’in yang merupakan fail. Kalimat yang dimulai dengan يَدْخُلُونَ merupakan hal dari النَّاسَ.
فِي دِينِ اللَّهِ
(ke dalam agama Allah)
فِي دِينِ jar wa majrur mutta’alliq pada يَدْخُلُونَ.
اللَّهِ mudhaf ilaihi dari دِينِ , majrur dengan tanda jar berupa kasrah.
دِينِ اللَّهِ maksudnya jalan atau agama Islam.
أَفْواجاً
(dengan berbondong-bondong)
hal dari failnya يَدْخُلُونَ , manshub ‘ala fathi. maksudnya masuk dengan berbondong-bondong.
فَسَبِّحْ بِحَمْدِ رَبِّكَ وَاسْتَغْفِرْهُ إِنَّهُ كانَ تَوَّاباً
فَسَبِّحْ
(maka bertasbihlah)
فَ fa’ rabithah, jawab syarat.
سَبِّحْ fi’il amr, mabni ‘ala sukun, failnya dhamir mustatir fiihi wujuban taqdirnya انت . Yaitu katakanlah Maha Suci Allah.
بِحَمْدِ
(dengan memuji)
jar wa majrur, muta’alliq dengan سَبِّحْ
رَبِّكَ
(Tuhanmu)
mudhaf ilaihi dari حَمْدِ , tanda jarnya berupa kasrah. كَ adalah dhamir muttashil, dhamir mukhatab, mudhaf ilaihi dari رَبِّ , fii mahalli jarrin, mabni ’ala fathi.
وَاسْتَغْفِرْهُ
(dan mohonlah ampun kepada-Nya)
وَ wawu athaf kepada سَبِّحْ .
اسْتَغْفِرْ dii’rab seperti سَبِّحْ yaitu fi’il amr, mabni ‘ala sukun.
هُ dhamir muttashil, mabni ‘ala dhammi, fii mahalli nashbin, maf’ul bihi.
إِنَّهُ كانَ تَوَّاباً
إِنَّهُ
(Sesungguhnya Dia)
إِنَّ huruf nashab, dengan makna taukid serupa dengan fi’il. fa’ilnya adalah هُ, dhamir muttashil mabni ‘ala dhammi fii mahalli nashbin, isimnya إِنَّ. Jumlah fi’liyah sesudahnya merupakan khabar إِنَّ , fii mahalli raf’in.
كانَ
(adalah)
fi’il madhi, naqish, mabni ‘ala fathi, isimnya adalah dhamir mustair jawazan taqdirnya adalah هو .
تَوَّابا
(Maha Penerima taubat.)
khabarnya كانَ manshub, dengan tanda nashab berupa fathah.
kalimat «جاء نصر اللّه» fii mahalli jarrin, mudhaf ilaihi.
kalimat «رأيت ...» fii mahalli jarrin, mengikuti kalimat جاء نصر ....
kalimat «يدخلون ...» fii mahalli nashbin, hal dari الناس .
kalimat «سبّح ...» tidak ada kedudukan padanya, jawab syarat yang tidak jazm.
kalimat «استغفره ...» tidak ada kedudukan padanya karena mengikuti kalimat سبّح.
kalimat «إنّه كان توابا ...» tidak ada kedudukan padanya ta’liliyah/sebab.
kalimat «كان توّابا» fii mahalli raf’in khabar إنّ .
I'rab surat al Ikhlash
Agus Subandi
I'rab Al-Qur'an Surat Al Ikhlash
>> MONDAY, NOVEMBER 30, 2009
SURAT AL IKHLASH
سورة الإخلاص
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ (4)4
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
I’RAB
الإعراب:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
(katakanlah Dia Allah Yang Maha Esa)
قُلْ
fi’il amr, mabni 'ala sukuni, disembunyikan wawunya karena bertemunya 2 sukun, failnya adalah dhamir mustatir wajiban yang taqdirnya أَنْتَ (anta, kamu, orang yang diajak bicara)
هُوَ اللَّهُ
هُوَ dhamir munfashil, mubtada’, fi mahalli raf’in, mabni karena dhamir.
اللَّهُ lafdhul jalaalah, marfu’ dengan tanda rafa’ dhammah, mubtada’ yang kedua, atau badal dari dhamir هُوَ
أَحَدٌ khabar dari mubtada’ اللَّهُ , marfu’ dengan tanda rafa’nya adalah dhammah, karena merupakan isim mufrad.
اللَّهُ الصَّمَدُ
(Allah adalah Tuhan yang Maha bergantung kepada-Nya segala sesuatu)
susunan mubtada’ dan khabar. keduanya marfu’ dengan tanda rafa’ dhammah, yang pertama lafdhul jalaalah yang kedua adalah isim mufrad.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
(Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan)
لَمْ laam merupakan huruf nafi, majzum
يَلِدْ fi’il mudhari’ mazjum, tanda jazmnya adalah sukun, mazjum karena ada لَمْ sebelumnya yang mempunyai amil menjazmkan fiil mudhari’. Failnya dhamir mustatir takdirnya هو, kembalinya kepada اللَّهُ
وَ wawu athaf kepada لَمْ yang pertama
لَمْ laam merupakan huruf nafi, majzum (seperti لَمْ yang pertama)
يُولَدْ fi’il mudhari’ pasif, mazjum, tanda jazmnya adalah sukun, mazjum karena ada لَمْ sebelumnya yang mempunyai amil menjazmkan fiil mudhari’. Naibul failnya dhamir mustatir takdirnya هو , kembalinya kepada اللَّهُ
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ
(Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia)
وَ wawu athaf kepada لَمْ yang pertama
لَمْ laam merupakan huruf nafi, majzum (seperti لَمْ yang pertama)
يَكُنْ fi’il mudhari’ naqish, merafa’kan isim dan menashabkan khabar mubtada’. mazjum karena didahului dengan لَمْ
لَهُ jar wa majrur, mutta’alliq dengan khabar يَكُنْ yaitu كُفُواً
كُفُواً khabar يَكُنْ yang didahulukan, manshub, tanda nashabnya adalah fathah, isim mufrad.
أَحَدٌ isim يَكُنْ yang diakhirkan, marfu’, tanda rafa’nya adalah dhammah, merupakan isim mufrad.
kalimat: «قل ...» tidak ada kedudukan untuknya karena merupakan permulaan.
kalimat: «هو اللّه أحد ...» fi mahalli nashbin (pada kedudukan nashab), apa yang dikatakan.
kalimat: «اللّه أحد ...» fi mahalli raf’in (pada kedudukan rafa’), merupakan khabar dari mubtada هُوَ
kalimat: «اللّه الصمد ...» fi mahalli raf’in (pada kedudukan rafa’), merupakan khabar kedua dari mubtada هُوَ
kalimat: «لم يلد ...» fi mahalli raf’in (pada kedudukan rafa’), merupakan khabar ketiga dari mubtada هُوَ
kalimat: «لم يولد ...» fi mahalli raf’in (pada kedudukan rafa’), mengikuti kalimat لم يلد
kalimat: «لم يكن له كفوا أحد» fi mahalli raf’in (pada kedudukan rafa’), mengikuti kalimat لم يلد
I'rab Al-Qur'an Surat Al Ikhlash
>> MONDAY, NOVEMBER 30, 2009
SURAT AL IKHLASH
سورة الإخلاص
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ (4)4
Katakanlah: "Dia-lah Allah, Yang Maha Esa.
Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.
Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan,
dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia".
I’RAB
الإعراب:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ
(katakanlah Dia Allah Yang Maha Esa)
قُلْ
fi’il amr, mabni 'ala sukuni, disembunyikan wawunya karena bertemunya 2 sukun, failnya adalah dhamir mustatir wajiban yang taqdirnya أَنْتَ (anta, kamu, orang yang diajak bicara)
هُوَ اللَّهُ
هُوَ dhamir munfashil, mubtada’, fi mahalli raf’in, mabni karena dhamir.
اللَّهُ lafdhul jalaalah, marfu’ dengan tanda rafa’ dhammah, mubtada’ yang kedua, atau badal dari dhamir هُوَ
أَحَدٌ khabar dari mubtada’ اللَّهُ , marfu’ dengan tanda rafa’nya adalah dhammah, karena merupakan isim mufrad.
اللَّهُ الصَّمَدُ
(Allah adalah Tuhan yang Maha bergantung kepada-Nya segala sesuatu)
susunan mubtada’ dan khabar. keduanya marfu’ dengan tanda rafa’ dhammah, yang pertama lafdhul jalaalah yang kedua adalah isim mufrad.
لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ
(Tidak beranak dan tidak pula diperanakkan)
لَمْ laam merupakan huruf nafi, majzum
يَلِدْ fi’il mudhari’ mazjum, tanda jazmnya adalah sukun, mazjum karena ada لَمْ sebelumnya yang mempunyai amil menjazmkan fiil mudhari’. Failnya dhamir mustatir takdirnya هو, kembalinya kepada اللَّهُ
وَ wawu athaf kepada لَمْ yang pertama
لَمْ laam merupakan huruf nafi, majzum (seperti لَمْ yang pertama)
يُولَدْ fi’il mudhari’ pasif, mazjum, tanda jazmnya adalah sukun, mazjum karena ada لَمْ sebelumnya yang mempunyai amil menjazmkan fiil mudhari’. Naibul failnya dhamir mustatir takdirnya هو , kembalinya kepada اللَّهُ
وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُواً أَحَدٌ
(Dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia)
وَ wawu athaf kepada لَمْ yang pertama
لَمْ laam merupakan huruf nafi, majzum (seperti لَمْ yang pertama)
يَكُنْ fi’il mudhari’ naqish, merafa’kan isim dan menashabkan khabar mubtada’. mazjum karena didahului dengan لَمْ
لَهُ jar wa majrur, mutta’alliq dengan khabar يَكُنْ yaitu كُفُواً
كُفُواً khabar يَكُنْ yang didahulukan, manshub, tanda nashabnya adalah fathah, isim mufrad.
أَحَدٌ isim يَكُنْ yang diakhirkan, marfu’, tanda rafa’nya adalah dhammah, merupakan isim mufrad.
kalimat: «قل ...» tidak ada kedudukan untuknya karena merupakan permulaan.
kalimat: «هو اللّه أحد ...» fi mahalli nashbin (pada kedudukan nashab), apa yang dikatakan.
kalimat: «اللّه أحد ...» fi mahalli raf’in (pada kedudukan rafa’), merupakan khabar dari mubtada هُوَ
kalimat: «اللّه الصمد ...» fi mahalli raf’in (pada kedudukan rafa’), merupakan khabar kedua dari mubtada هُوَ
kalimat: «لم يلد ...» fi mahalli raf’in (pada kedudukan rafa’), merupakan khabar ketiga dari mubtada هُوَ
kalimat: «لم يولد ...» fi mahalli raf’in (pada kedudukan rafa’), mengikuti kalimat لم يلد
kalimat: «لم يكن له كفوا أحد» fi mahalli raf’in (pada kedudukan rafa’), mengikuti kalimat لم يلد
I'rab al Qur'an
Agus Subandi
I'rab Al-Qur'an Surat Al Kafirun
>> SUNDAY, SEPTEMBER 26, 2010
SURAT AL KAFIRUN
سورة الكافرون
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
قُلْ يا أَيُّهَا الْكافِرُونَ (1) لا أَعْبُدُ ما تَعْبُدُونَ (2) وَلا أَنْتُمْ عابِدُونَ ما أَعْبُدُ (3) وَلا أَنا عابِدٌ ما عَبَدْتُّمْ (4)
وَ لا أَنْتُمْ عابِدُونَ ما أَعْبُدُ (5)
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6) 6
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku".
I’RAB
الإعراب:
قُلْ يا أَيُّهَا الْكافِرُونَ
قُلْ (katakanlah)
fi’il amr, mabni 'ala sukun, disembunyikan wawu karena bertemunya 2 sukun, failnya adalah dhamir mustatir wajiban yang taqdirnya أَنْتَ (anta, kamu, orang yang diajak bicara)
يا
(wahai)
huruf nidaa'/panggilan.
أَيُّهَا
أيّ
munada (yang diseru) mabni 'ala dhommi, pada keduduan nashab.
هَا
huruf tambahan untuk tambih/ perhatian padanya.
الْكافِرُونَ
(orang-orang kafir)
sifat dari أيّ marfu', tanda rafa'nya adalah wawu karena merupakan jamak mudzakkar salim.
لا أَعْبُدُ ما تَعْبُدُونَ
لا
(tidaklah)
lam nafiyah, menafikan, tidak memiliki amal apapun dalam i'rab.
أَعْبُدُ
(aku menyembah)
fi'il mudhari' marfu', tanda rafa'nya dhammah. Fa'ilnya adalah dhammir mustatir wajiiban yang takdirnya adalah اثا (saya).
ما تَعْبُدُونَ
(apa yang kamu sembah)
ما isim maushul mabni 'ala sukun dengan makna alladzi/yang, fii mahalli nashbin, karena merupakan maf'ul bih.
sebagian mengatakan maa masdariyah.
تَعْبُدُونَ
(kamu sembah)
fi'il mudhari', marfu' tanda rafa'nya adalah disebutnya nun. Dhammah merupakan dhammir mutashil pada kedudukan rafa', adalah failnya, takdirnya pada kalian banyak.
kalimat ini juga merupakan shilah maushul, tidak ada i'rab padanya
وَلا أَنْتُمْ عابِدُونَ ما أَعْبُدُ
وَ
(dan)
wawu athaf
لا
(tidaklah)
lam nafiyah, menafikan, tidak memiliki amal padanya.
أَنْتُمْ
(kalian)
dhamir rafa' munfashil, mabni 'ala dhammi, fii mahalli raf'in. mubtada'.
عابِدُونَ ما أَعْبُدُ
(penyembah Tuhan yang aku sembah)
khabar dari أَنْتُمْ marfu', tanda rafa'nya wawu karena merupakan jamak mudzakkar salim.
ما isim maushul mabni 'ala sukun dengan makna alladzi/yang, fii mahalli nashbin, karena merupakan maf'ul bih.
أَعْبُدُ
(aku sembah)
fi'il mudhari', marfu' tanda rafa'nya adalah disebutnya nun. Failnya berupa dhammir mustatir wajiban takdirnya ana .
i'rabnya serupa dengan ما تَعْبُدُونَ
وَلا أَنا عابِدٌ ما عَبَدْتُّمْ
(Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah)
وَلا
(dan tidaklah)
seperti di atas i'rabnya
أَنا
(aku)
dhammir, rafa' munfashil, mabni 'ala dhammi, fii mahalli raf'in. mubtada'.
عابِدٌ
(penyembah)
khabar dari أَنا marfu' dengan tandanya berupa dhammah.
ما عَبَدْتُّمْ
(apa yang kamu sembah)
i'rabnya seperti ما تَعْبُدُونَ
ما isim maushul mabni 'ala sukun dengan makna alladzi/yang, fii mahalli nashbin, karena merupakan maf'ul bih.
عَبَدْتُّمْ fi'il madhi mabni 'ala sukun, karena adanya dhammir تُّمْ
failnya dhammir muttashil mukhathab (yang diajak bicara), mabni 'ala dhammi fii mahalli raf'in, mim adalah tanda jamak mudzakkar.
وَ لا أَنْتُمْ عابِدُونَ ما أَعْبُدُ
i'rabnya serupa dengan kalimat sebelumnya
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
(Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku)
لَكُمْ دِينُكُمْ
jar wa majrur mutta'aliq dengan khabar muqaddam. mim merupakan alamat/tanda jamak mudzakkar.
دِينُكُمْ merupakan mubtada' muakhar, marfu' dengan tanda rafa' dhammah.
kaf, dhammir mutashil fii mahalli jarrin karena idhafah.
وَلِيَ دِينِ
terdapat wawu athaf, i'rab mengikuti لَكُمْ دِينُكُمْ
دِينِ karena waqaf, ya' dihilangkan.
I'rab Al-Qur'an Surat Al Kafirun
>> SUNDAY, SEPTEMBER 26, 2010
SURAT AL KAFIRUN
سورة الكافرون
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ
قُلْ يا أَيُّهَا الْكافِرُونَ (1) لا أَعْبُدُ ما تَعْبُدُونَ (2) وَلا أَنْتُمْ عابِدُونَ ما أَعْبُدُ (3) وَلا أَنا عابِدٌ ما عَبَدْتُّمْ (4)
وَ لا أَنْتُمْ عابِدُونَ ما أَعْبُدُ (5)
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6) 6
Katakanlah: "Hai orang-orang kafir. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku".
I’RAB
الإعراب:
قُلْ يا أَيُّهَا الْكافِرُونَ
قُلْ (katakanlah)
fi’il amr, mabni 'ala sukun, disembunyikan wawu karena bertemunya 2 sukun, failnya adalah dhamir mustatir wajiban yang taqdirnya أَنْتَ (anta, kamu, orang yang diajak bicara)
يا
(wahai)
huruf nidaa'/panggilan.
أَيُّهَا
أيّ
munada (yang diseru) mabni 'ala dhommi, pada keduduan nashab.
هَا
huruf tambahan untuk tambih/ perhatian padanya.
الْكافِرُونَ
(orang-orang kafir)
sifat dari أيّ marfu', tanda rafa'nya adalah wawu karena merupakan jamak mudzakkar salim.
لا أَعْبُدُ ما تَعْبُدُونَ
لا
(tidaklah)
lam nafiyah, menafikan, tidak memiliki amal apapun dalam i'rab.
أَعْبُدُ
(aku menyembah)
fi'il mudhari' marfu', tanda rafa'nya dhammah. Fa'ilnya adalah dhammir mustatir wajiiban yang takdirnya adalah اثا (saya).
ما تَعْبُدُونَ
(apa yang kamu sembah)
ما isim maushul mabni 'ala sukun dengan makna alladzi/yang, fii mahalli nashbin, karena merupakan maf'ul bih.
sebagian mengatakan maa masdariyah.
تَعْبُدُونَ
(kamu sembah)
fi'il mudhari', marfu' tanda rafa'nya adalah disebutnya nun. Dhammah merupakan dhammir mutashil pada kedudukan rafa', adalah failnya, takdirnya pada kalian banyak.
kalimat ini juga merupakan shilah maushul, tidak ada i'rab padanya
وَلا أَنْتُمْ عابِدُونَ ما أَعْبُدُ
وَ
(dan)
wawu athaf
لا
(tidaklah)
lam nafiyah, menafikan, tidak memiliki amal padanya.
أَنْتُمْ
(kalian)
dhamir rafa' munfashil, mabni 'ala dhammi, fii mahalli raf'in. mubtada'.
عابِدُونَ ما أَعْبُدُ
(penyembah Tuhan yang aku sembah)
khabar dari أَنْتُمْ marfu', tanda rafa'nya wawu karena merupakan jamak mudzakkar salim.
ما isim maushul mabni 'ala sukun dengan makna alladzi/yang, fii mahalli nashbin, karena merupakan maf'ul bih.
أَعْبُدُ
(aku sembah)
fi'il mudhari', marfu' tanda rafa'nya adalah disebutnya nun. Failnya berupa dhammir mustatir wajiban takdirnya ana .
i'rabnya serupa dengan ما تَعْبُدُونَ
وَلا أَنا عابِدٌ ما عَبَدْتُّمْ
(Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah)
وَلا
(dan tidaklah)
seperti di atas i'rabnya
أَنا
(aku)
dhammir, rafa' munfashil, mabni 'ala dhammi, fii mahalli raf'in. mubtada'.
عابِدٌ
(penyembah)
khabar dari أَنا marfu' dengan tandanya berupa dhammah.
ما عَبَدْتُّمْ
(apa yang kamu sembah)
i'rabnya seperti ما تَعْبُدُونَ
ما isim maushul mabni 'ala sukun dengan makna alladzi/yang, fii mahalli nashbin, karena merupakan maf'ul bih.
عَبَدْتُّمْ fi'il madhi mabni 'ala sukun, karena adanya dhammir تُّمْ
failnya dhammir muttashil mukhathab (yang diajak bicara), mabni 'ala dhammi fii mahalli raf'in, mim adalah tanda jamak mudzakkar.
وَ لا أَنْتُمْ عابِدُونَ ما أَعْبُدُ
i'rabnya serupa dengan kalimat sebelumnya
لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ
(Untukmu agamamu, dan untukkulah, agamaku)
لَكُمْ دِينُكُمْ
jar wa majrur mutta'aliq dengan khabar muqaddam. mim merupakan alamat/tanda jamak mudzakkar.
دِينُكُمْ merupakan mubtada' muakhar, marfu' dengan tanda rafa' dhammah.
kaf, dhammir mutashil fii mahalli jarrin karena idhafah.
وَلِيَ دِينِ
terdapat wawu athaf, i'rab mengikuti لَكُمْ دِينُكُمْ
دِينِ karena waqaf, ya' dihilangkan.
Langganan:
Postingan (Atom)