Rabu, 20 Juni 2012

Pengajaran Ilmu Warits
Agus Subandi
 PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah Manusia adalah makhluk terdidik. Ada yang menciptakan. Pencipta manusia adalah Allah. Sebagai makhluk yang berfikir dan beragama, maka ada kewajiban untuk menyembah. Yang disembah oleh manusia, bukan manusia lagi sesama makhluk, akan tetapi Yang menciptakan, yaitu Allah. Allah Swt. berfirman :  Artinya : “ dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku “. (Q.S. Adz-Dzariyat (51) :56)1 Pendidikan berusaha mengubah keadaan seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat berbuat menjadi dapat berbuat, dari tidak bersikap seperti yang diharapkan menjadi bersikap seperti yang diharapkan.2 Pendidikan merupakan upaya manusia yang diarahkan kepada manusia lain, generasi muda, murid, dengan harapan agar mereka ini – berkat pendidikan (dan pengajaran) itu – kelak menjadi manusia yang shaleh, yang berbuat sebagaimana yang seharusnya diperbuat dan menjauhi apa yang tidak patut dilakukannya.3 Dalam penjelasan Undang-undang RI No. 23 Tahun 2003 Pasal 37 ayat 1 menyatakan bahwa “ Pendidikan agama dimaksudkan untuk membentuk peserta didik menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa serta berakhlak mulia”.4
 ----------
 1Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, (Jakarta : Yayasan Penerjemah Al-Qur’an, 2000), hlm. 14
2Zakiah Daradjat dkk.,Metodologi Pengajaran Agama Islam,(Jakarta : PT Bumi Aksara,2008),cet. ke 3,hlm.72 3Abdul Fattah Jalal,Azas-azas Pendidikan Islam,(Bandung : Penerbit CV Diponegoro,1988),cet. ke 1,hlm.11
 4Tim Redaksi Fokus Media,Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional,(Bandung : Penerbit Fokus Media,2006),hlm.108
1 2 Pendidikan agama meliputi berbagai bidang studi, sebagaimana yang ditetapkan dalam kurikulum masing-masing jenis dan tingkat pendidikan, yaitu : al-Qur’an al-Karim, hadits, aqidah, ibadah, sejarah, akhlak dan pengetahuan lainnya.5 Muhammad Abdul Qadir Ahmad menyatakan bahwa “ Pendidikan agama sedapat mungkin diajarkan dengan praktik. Pada waktu siswa belajar tentang wudhu, shalat, sujud tilawah, atau sujud sahwi misalnya, supaya disajikan melalui praktik.6 Tujuan mengajarkan ibadah adalah supaya murid-murid mengetahui hukum-hukum agama dalam bidang ibadah, agar mereka dapat melaksanakannya dengan benar dan mengharap penerimaan dari Allah.7 Tanggung jawab pendidikan terletak pada orang tua, sekolah dan masyarakat. Pendidikan di rumah oleh orang tua, pendidikan di sekolah oleh guru dan pendidikan di masyarakat oleh yang bertanggung jawab menciptakan masyarakat beradab, yaitu siapa saja yang mengajak kepada hal-hal yang benar. Guru bertanggung jawab mendidik anak-anak di sekolah. Tugas guru adalah mengajar. Menurut Muhibbin Syah, bahwa mengajar itu merupakan penyampaian pengetahuan dan kebudayaan kepada siswa.8 Dalam kontek pendidikan Islam, pendidik disebut dengan murabbi, mu’allim, dan muaddib. Kata murabbi berasal dari rabba – yurabbi. Kata mu’allim berasal dari ‘allama – yu’allimu. Kata muaddib berasal dari addaba – yuaddibu. Istilah pengajaran termasuk dalam makna pendidik yang berasal dari mu’allim.9
 ------------
 5Muhammad Abdul Qadir Ahmad,Metodologi Agama Islam, Terj.A. Mustofa (Jakarta : Penerbit Rineka Cipta, 2008),cet. 1, hlm. 71
 6Ibid,hlm.19
 7Ibid,hlm.155
 8Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung : PT Rosdakarya Remaja, 2010), cet. ke 16, hlm. 179
 9Ramayulis, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta : Penerbit Kalam Mulia, 2006), cet. ke 5, hlm. 56
 3 Menurut Ramayulis, mu’allim pada umumnya dipakai dalam membicarakan aktivitas yang lebih terfokus pada pemberian atau pemindahan ilmu pengetahuan (pengajaran), dari seorang yang tahu kepada seorang yang tidak tahu.10 Sebagian orang menganggap bahwa mengajar tidak berbeda dengan mendidik. Oleh karenanya, istilah mengajar atau pengajaran yang dalam bahasa Arab disebut ta’lim dan dalam bahasa Inggris teaching itu kurang lebih sama artinya dengan pendidikan yakni tarbiyah dalam bahasa Arab dan education dalam bahasa Inggris.11 Selanjutnya Muhibbin Syah mengutip pendapat Tadrif, mengajar itu pada prinsipnya adalah ... any action performed by an individual (the teacher) with the intention of facilitation learning in another individual (the leaner). Mengajar adalah perbuatan yang dilakukan seseorang (guru) dengan tujuan membantu atau memudahkan orang lain (siswa) melakukan kegiatan belajar.12 Sedangkan Zakiah Daradjat mengutip Thomas M. Risk, mengemukakan tentang belajar – mengajar sebagai berikut : “ Teaching is the guidance of learning experiences”. Mengajar adalah proses membimbing pemahaman belajar.13 Teungku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy mengatakan ilmu warits adalah : علم يعرف به من يرث ومن لايرث ومقدار كل وارث وكيفية التوزيع ِ Artinya : “ Ilmu untuk mengetahui orang yang berhak menerima pusaka, orang yang tidak dapat menerima pusaka, kadar yang diterima oleh tiap-tiap waris dan cara pembagiannya”.14
 --------------
 10Ibid
 11 Op.Cit, hlm. 177
 12Ibid, hlm. 179
 13Zakiah Daradjat, dkk., Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam, (Jakarta : Penerbit Bumi Aksara, 2008), cet. ke 4, hlm. 137
 14Teungku M Hasbi Ash-Shiddieqy, Fiqh Mawaris, (Semarang : PT Pustaka Rizki Putra, 2010), cet.ke 3 Ed. ke 3, hlm. 5
 4 Ketika seseorang meninggal, maka setelah urusan yang berhubungan dengan kepentingan si mayat ditunaikan, harta yang ditinggalkan harus dibagi-bagikan kepada ahli waris yang berhak menerimanya. Peninggalan harta tersebut dinamakan waris. Arti Mirats (waris) menurut lughot adalah pindahnya sesuatu dari seseorang kepada orang lain atau dari satu kaum kepada kaum yang lain. Sedangkan menurut istilah adalah pindahnya hak milik orang yang meninggal dunia kepada ahli warisnya yang masih hidup, baik yang ditinggalkannya itu berupa harta bergerak dan tidak bergerak atau hak-hak menurut hukum syara’ “.15 Dalam Kompilasi Hukum Islam, hukum kewarisan adalah hukum yang mengatur tentang pemindahan hak pemilikan harta peninggalan (tirkah) pewaris, menentukan siapa-siapa yang berhak menjadi ahli waris dan berapa bagiannya masing-masing.16 Dalam literatur hukum Islam ditemui berbagai istilah untuk menamakan Hukum Kewarisan Islam seperti : Faraid, Fikih Mawaris dan Hukum al Waris. Perbedaan dalam penamaan ini terjadi karena perbedaan dalam arah yang dijadikan titik utama dalam pembahasan. Kata yang difahami adalah Faraid”.17 Adapun yang dimaksud dengan faraid adalah masalah-masalah pembagian harta warisan. Kata “al faraidh” atau diindonesiakan menjadi “faraid” adalah bentuk jamak dari “al faridhah” yang bermakna “al marfudhah” atau sesuatu yang diwajibkan. Artinya, pembagian yang telah ditentukan kadarnya “.18
 ------------------
 15Muhammad Ali as-Shabuni, Hukum Waris Dalam Syariat Islam,(Bandung : CV Diponegoro), 1995, hlm. 40-41
 16Tim Redaksi Fokus Media,Kompilasi Hukum Islam,(Bandung :Fokusmedia,2007), cet. ke 2, hlm. 56 17Amir Syarifuddin, Hukum Kewarisan Islam, (Jakarta : Prenada Media Group), 2008, cet. ke 3 hlm. 5 18Komite Fakultas Syariah al Azhar, Hukum Waris,Terj. Addys A. dan Fathurrahman, (Jakarta : Senayan Abadi Publishing,2009), cet. ke 2 hlm. 11
 5 Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid mengatakan bahwa fara’idh adalah bentuk plural dari faridhah. Dalam bahasa Arab, kata faridhah bermakna takaran atau ukuran. Ia adalah betuk subjek (fa’il), namun bermakna objek (maf’ul). Kata tersebut adalah derivasi akar kata al fardhu yang berarti ukuran atau takaran. Dalam syariat, ia memiliki definisi : “Bagian yang sudah ditentukan secara syariat bagi para penerima waris”.19 Allah Swt. Berfirman sebagai berikut :

 Artinya : “ dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu “. (Q.S. Al Ahzab (33) : 27)20
 
 Artinya : “ Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada kamilah mereka dikembalikan “. (Q.S. Maryam (19) : 40 )21 Rasulullah Saw. bersabda : تعلموا الفرائض وعلموها فانها نصف العلم وهو ينسى وهو اول شيئ ينزع من امتى. رواه ابن ماجه و الدارقطنى
Artinya : “ Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw. bersabda : “ Pelajarilah faraidh dan ajarkanlah kepada manusia, karena faraidh adalah separoh dari ilmu dan akan dilupakan. Faraidhlah ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku “. (H.R. Ibnu Majah dan Ad-Daruquthni).22
 -----------
19Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid, Panduan Waris Empat Madzhab, Terj. Wahyudi Abdurrahim, (Jakarta : Pustaka Al Kautsar, 2006), cet. ke 1 hlm. 3
 20Departemen Agama RI, Al Qur’an dan Terjemahannya, (Surabaya : Percetakan Dana Karya, 2008), hlm. 769.
 21Ibid, hlm. 544.
 22As-Sayyid Saabiq, Fikih Sunnah Jilid 14, Terj.Mudzakir AS,(Bandung : PT Al-Ma’arif),1987, hlm. 23
6 Ilmu waris merupakan ilmu yang sarat nilai dan mulia. Ia adalah mahkota dan ‘puncak’ nya ilmu fikih, baik dilihat dari perhitungannya yang terperinci, keadilan dalam distribusi, maupun ketelitian dalam pembagiannya.23 Dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama ditegaskan bahwa kewarisan bagi umat Islam, di seluruh Indonesia, penyelesaiannya menjadi wewenang Peradilan Agama. Tentang hukum yang digunakan dalam menyelesaikan urusan kewarisan itu adalah hukum Islam tentang kewarisan atau yang disebut Hukum Kewarisan Islam atau Faraid.24 Orang-orang Arab sebelum Islam hanya memberikan warisan kepada kaum lelaki saja, sedangkan kaum perempuan tidak mendapatkannya, dan warisan hanya untuk mereka yang sudah dewasa, anak-anak tidak mendapatkannya pula. Disamping itu ada juga waris-mewaris yang didasarkan pada perjanjian. Maka Allah membatalkan itu semua dan menurunkan Al-Qur’an surat An-Nisa ayat 11 sebagai berikut :
 ----------
 23Muhammad Muhyiddin, Op.Cit, hlm. ix
 24Amir Syarifuddin, Op.Cit, hlm. 325
 7 Artinya : Allah mensyariatkan bagimu tentang pembagian pusaka untuk anak-anakmu. Yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan, dan jika anak itu semuanya perempuan lebih dari dua, maka bagi mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan, jika anak perempuan itu seorang saja, maka dia memperoleh separoh harta. Dan untuk dua orang ibu-bapak, bagi masing-masingnya seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika yang meninggal itu mempunyai anak, jika yang meninggal tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh ibu-bapaknya saja, maka ibunya mendapat sepertiga, jika yang meninggal itu mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. Pembagian-pembagian tersebut di atas sesudah dipenuhi wasiat yang dia buat atau sesudah dibayar hutangnya. Tentang orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa diantara yang lebih dekat, manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan dari Allah. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana. (Q.S An-Nisa : 11) 25 Ahmad Musthafa Al Maraghi berpendapat bahwa “ setelah Allah menjelaskan hukum waris secara global di dalam firman-Nya “ lir rijaali nashiibun tarakal waalidaani wal aqrabuun, kemudian Allah menurunkan disini tentang rincian kemajmulan (keglobalan) ayat itu. Untuk itu Allah menjelaskan hokum-hukum waris dan bagian-bagiannya untuk membatalkan hokum waris yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab pada masa jahiliyah yang melarang wanita dan anak-anak mendapatkan bagian waris, dan membolehkan bagian orang-orang yang diharamkan dalam Islam mendapatkannya. 26 Hal-hal yang menyebabkan pewarisan pada zaman jahiliyah itu ada tiga yaitu : nasab (keturunan), adopsi (anak angkat) dan fakta (persekutuan bela diri). Tatkala Islam datang, pada mulanya mengakui persyaratan pertama. Hanya yang kedua dan ketiga tidak diakuinya.27
 --------------
 25Op.Cit, hlm. 133
 26Ahmad Musthafa Al Maraghi, Tafsir Al Maraghi, (Terj. Bahrun Abu Bakar), (Semarang : CV Toha Putra, 1993), cet. ke 2 hlm. 350
 27Ibid
8 Allah Swt. Berfirman : Artinya : “ bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya ….”. (Q.S. An-Nisa (4) : 33)28 Yang dimaksud ayat ini ialah saling mewaris karena nasab. Allah Swt. berfirman : Artinya : “ …. dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, Maka berilah kepada mereka bahagiannya…. “. (Q.S. An-Nisa (4) : 33)29 Sebab-sebab turunnya ayat tersebut di atas adalah sebagai berikut :
عن جابرقال: جاءت امراة سعدبن الربيع الى رسول الله صلى الله عليه وسلم بابنتيها من سعيد فقالت يارسول الله هاتان ابنتا سعدبن الربيع قتل ابوهما معك فى احد شهيدا وان عمهما اخذ ما لهما فلم يدع لهما مالا ولا ينكحان الا بمال فقال يقضى الله فى ذالك فنزلت اية المواريث فارسل رسول الله صلى الله عليه وسلم الى عمهما فقال اعط ابنتى سعد الثلثين وامهما الثمن وما بقى فهو لك رواه الخمسة الا النسائى
 Artinya : Dari jabir, dia berkata : Istri Sa’ad ibnur Rabi’ datang kepada rasulullah saw. dengan membawa kedua anak perempuannya yang dari Sa’ad, lalu katanya : Wahai Rasulullah, kedua anak perempuan ini adalah anak Sa’ad ibnur Rabi’, ayah keduanya mati terbunuh sebagai syahid waktu berperang bersama engkau di Uhud. Dan paman keduanya telah mengambil harta keduanya, sehingga dia tidak lagi meninggalkan harta bagi keduanya. Sedang keduanya itu tidak dapat menikah kecuali dengan harta. Maka kata beliau : “ Allah akan memutusi perkara itu “. Lalu turunlah ayat warisan ini.
 ---------
 28Op.Cit, hlm. 141
 29Ibid.
 9 Maka Rasulullah Saw. pun mengirim utusan kepada paman dari keduanya agar dia menghadap kepada belliau, lalu kata beliau : “ Berikan kepada kedua anak perempuan Sa’ad dua pertiga, dan kepada ibu keduanya seperdelapan, dan sisanya untukmu”.(H.R Lima orang ahli hadits kecuali An-Nasa’i)30 Dalam pendidikan Islam, nilai-nilai Al-Qur’an merupakan elemen dasar dalam kurikulum dan lembaga pendidikan, tidak boleh tidak, harus prihatin membawa anak didiknya sesuai dengan nilai-nilai Al-Qur’an tersebut. Praktek-praktek harus dilakukan oleh para pendidik dan pertimbangan-pertimbangan nilai tidak dapat terbatasi dengan penelitian-penelitian ilmiah melulu.31 Kegiatan pembelajaran dirancang untuk memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar peserta didik, peserta didik dengan guru, lingkungan, dan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar. Kegiatan pembelajaran yang dimaksud dapat terwujud melalui penggunaan pendekatan pembelajaran yang bervariasi dan berpusat pada peserta didik. 32 Adapun Standar Kompetensi yang ingin dicapai dalam memberikan materi pelajaran tentang waris dengan alokasi waktu 4 jam ( 2 x pertemuan ) yang dilaksanakan pada Smester 2 Kelas XII yaitu siswa mampu memahami hukum Islam tetang waris.33 Abdurrahman Saleh Abdullah menyatakan bahwa Materi Pendidikan meliputi : Keserasian yang harmonis antara materi dan tujuan; rumusan pokok klasifikasi ilmu pengetahuan dalam Islam; Islam menolak dualisme sistem kurikulum dan sekularisme … “.34 Sidi Gazalba menyatakan bahwa “ Pola ajaran dan amal Islam menuntun pertumbuhan dan perkembangan manusia. Gerak yang berlangsung ialah : mula-mula ia dibentuk menjadi Mu’min; sesudah itu Muslim; selanjutnya menjadikannya Muhsin “.35
-----------
 30Q. Sholeh, Azbabun Nuzul, (Bandung : CV Diponegoro, 2006), hlm. 128-130
 31Abdurrahmah Shaleh,Teori-teori Pendidikan Berdasarkan al-Qur’an, (Jakarta : Rineka Cipta,2007),cet. ke 4, hlm. 22-23
 32Ibid,hlm. 43
 33Depdiknas,Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus,(Jakarta : BSNP,2006),hlm. xi.
 34Abdurrahman Shaleh,Op.Cit,hlm. 159-163
 35Sidi Gazalba,Azas Agama Islam,(Jakarta : PT Bulan Bintang Bandung,1985),cet. ke 2, hlm. 186
10 Rasulullah Saw. bersabda :
 قال يارسول الله ما الاحسان ؟ قال ان تعبد الله كانك تراه فانك ان لا تراه فانه يرتك . رواه مسلم
 Artinya “ … Wahai Rasulullah ! Apakah ihsan itu ? Beliau menjawab. Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, meskipun kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu “. (H.R. Shahih Muslim)36
 Abuddin Nata dalam Akhlak Tasawuf mengatakan bahwa “ Ciri-ciri insan kamil adalah sebagai berikut : Berfungi akalnya secara optimal; Berfungsi intuisinya; Mampu menciptakan budaya; Menghiasi diri dengan sifat-sifat Ketuhanan; Berakhlak mulia; dan berjiwa seimbang “.37 Setiap pemeluk agama Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga mustahil tanpa Islam.38 Zakiah Daradjat dkk., menyebutkan bahwa “ Kurikulum dalam pengertian mutakhir adalah semua kegiatan yang memberikan pengalaman kepada siswa (anak didik) di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah, baik di luar maupun didalam lingkungan dinding sekolah “.39 Esensi kurikulum ialah program. Bahkan kurikulum ialah program. Kata ini memang terkenal dalam ilmu pendidikan. Program apa ? Kurikulum ialah program dalam mencapai tujuan pendidikan.40
 -----------
 36Op.Cit,hlm. 2
 37Abuddin Nata,Akhlak Tasawuf,(Jakarta : Rajagrafindo,2009),hlm. 164-266
 38Atang Abd. Hakim dan Jaih Mubarok,Metodologi Studi Islam,(Bandung : PT Remaja Rosdakarya,2010),cet. ke 12,hlm. 150
 39Zakiah Daradjat dkk.,Op.Cit,hlm. 83
 40Ahmad Tafsir,Op.Cit,hlm. 99
11 Menurut Hasan Langgulung kurikulum adalah “ sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan “.41 Kalau kita bicara tentang metodologi pengajaran disini, pembicaraan kita bukan hanya terbatas pada hal-hal pengajaran saja, tetapi menyangkut soal yang lebih luas … Pendeknya meliputi segala hal yang akan membawa proses belajar-mengajar bisa lebih efektif. Dengan kata lain metodologi ini akan menjawab pertanyaan “bagaimana”(How)? Sedang bagian “mata pelajaran” (knowledge) menjawab pertanyaan apa (what) yang harus dipelajari. 42 Metodologi pendidikan adalah suatu ilmu pengetahuan tentang metode yang dipergunakan dalam pekerjaan mendidik. Asal kata “metode” mengandung pngertian “ suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan”. Metode berasal dari dua perkataan yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui”, dan hodos berarti “jalan atau cara”, bila ditambah dengan logi sehingga menjadi metodologi berarti “ Ilmu pengetahuan tentang jalan atau cara yang harus dilalui” untuk mencapai suatu tujuan, oleh karena logi yang berasal dari bahasa Greek (Yunani) logos berarti “akal” atau “ilmu” .43 Metodologi adalah metodologi pengajaran, yaitu cara-cara yang dapat digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran kepada murid. Cara-cara penyampaian dimaksud berlangsung dalam interaksi edukatif dan penggunaan berbagai cara itu merupakan upaya untuk mempertinggi mutu pendidikan / pengajaran yang bersngkutan.44 Ahmad Tafsir menyatakan bahwa didalam “ metode internalisasi ada tiga tujuan pembelajaran. Ini berlaku untuk tujuan pembelajaran apa saja, yaitu : Tahu, mengetahui (knowing); Mampu melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing); Murid menjadi orang seperti yang ia ketahui itu.45
 -----------
 41Hasan Langgulung,Op.Cit,hlm. 295
 42Ibid,hlm. 306
 43M. Arifin,Op.Cit,hlm. 65
 44Zakiah Daradjat dkk.,Op.Cit,hlm. 111
 45Ahmad Tafsir,Op.Cit,hlm. 224
 12 Ramayulis mengemukakan ada beberapa metode mengajar dalam pendidikan Islam yang prinsip dasarnya dari al-Qur’an dan hadis, yaitu : 1. Metode ceramah 2. Metode tanya jawab 3. Metode diskusi 4. Metode pemberian tugas 5. Metode demonstrasi 6. Metode eksperimen 7. Metode kerja kelompok 8. Metode kisah 9. Metode amsal 10. Metode targhib dan tarhib.46 Menurut Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, secara teknis metode pendidikan Islam dapat direalisasikan dalam teknik pendidikan Islam, yaitu : 1. Teknik periklanan ( al ikhbariyah ) dan teknik pertemuan; 2. Teknik dialog ( hiwar ); 3. Teknik berceritera; 4. Teknik metafora ( al amtsal ); 5. Teknik imitasi ( al qudwah ); 6. Teknik drill ( al muwarrosah ); 7. Teknik ibrah; 8. Teknik pemberian janji dan ancaman ( targhib dan tarhib ); 9. Teknik perlombaan ( al musabaqah ). 47
 ------------
 46Ramayulis,Ilmu Pendidikan Islam,(Jakarta : Penerbit Kalam Mulia,2006(,cet. ke 5, hlm. 193-197 47Abdul Mujib dan Jusuf Mudzakkir, Ilmu Pendidikan Islam, (Jakarta : Kencana, 2010), cet. 3, hlm. 179-207
 13 Teknik musabaqah adalah teknik yang dilakukan dengan cara memberikan pelajaran kepada peserta didik melalui upaya yang bersifat kompetisi antara peserta didik satu dengan peserta didik lainnya. Bentuk teknik ini dapat berupa olah fikir (seperti cerdas cermat, cepat tepat), olah tulis (membuat karya ilmiah, resensi buku, melukis, menggambar), dan olahraga (membuat keterampilan tertentu). 48 Teknik ini sangat effektif karena dapat menguras keseluruhan kemampuan yang dimiliki peserta didik dalam waktu yang sesingkat mungkin, peserta didik terbiasa merefleksikan kemampuannya tanpa memikirkan lebih lama.49 Allah Swt. berfirman sebagai berikut : Artinya : “ dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah (dalam membuat) kebaikan. di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu “.50 Rasulullah Saw. bersabda sebagai berikut :
عن ابن عمر رضى الله عنهما قال سابق النبى صلى الله عليه وسلم بالخيل قد ضمرت من الحفياء وكان امدها ثنية الوداع وسابق بين الخيل التى لو تضمر من الثنية الى مسجد بنى زريق وكان ابن عمر فيمن سابق. متفق عليه, زاد البخارى, قال سفيان : من الحفياء الى ثنية الوداع خمسة اميال او ستة, ومن التثنية الى مسجد بنى زريق ميل
 -----------
 48Ibid
 49Ibid
 50Op/Cit, hlm. 351
 14 Artinya : Dari Ibnu Umar, ra. Ia berkata : “ Rasulullah Saw. Berlomba ketangkasan kudanya yang sudah dikurangi makannya dari jenis kuda Hufayya’ yang jarak jauhnya mencapai Tsaniyah al Wada’, juga Beliau melombakan ketangkasan kudanya yang sudah diperkuat dengan makanan dari Tsaniyah menuju Masjid Bani Ruziq, dan Ibnu Umar diantara orang yang berlomba itu “. (Hadits disepakati Imam Bukhori dan Imam Muslim). Imam Bukhari menambahkan dalam suatu riwayatnya, bahwa menurut Sufyan : “ Jarak antara Hufayah menuju ke Tsaniyahal Wada’ itu sejauh lima mil, enam mil, dan jarak antara Tsaniyah dengan Masjid Bani Zuraiq itu sejauh satu mil”.51 Belajar waris sama dengan belajar al-Jabbar. Sebab yang dipelajari dalam ilmu waris yaitu hitungan. Yakni menghitung harta peningalan si mayat untuk dibagi-bagikan kepada ahli waris yang berhak menerimanya sampai harta tersebut seluruhnya terbagikan. Pokok-pokok yang mesti dikuasai dalam ilmu warits yaitu dzawil furudh, (jamak dari fardhu) yaitu bagian-bagian yang sudah ditetapkan dalam Kitabullah ada enam, yaitu setengah (nisf), seperempat (rubu’), seperdelapan (tsumun) dua pertiga (tsulutsaa), sepertiga (tsuluts) dan seperenam (sudus).52 Yang mendapat setengah harta yaitu seorang anak perempuan, seorang cucu perempuan, seorang saudara perempuan seibu sebapak, seorang saudara perempuan sebapak, suami bila tidak ada anak atau cucu. Yang mendapat seperempat harta yaitu suami bila bersama anak atau cucu, isteri bila tidak ada anak atau cucu. Yang mendapat seperdelapan yaitu isteri bila ada anak atau cucu. Yang mendapat dua pertiga yaitu dua atau lebih anak perempuan, dua atau lebih cucu perempuan, dua atau lebih saudara perempuan seibu sebapak, dua atau lebih saudara perempuan sebapak. Yang mendapat sepertiga yaitu ibu bila tidak ada anak atau cucu, dua orang saudara atau lebih laki-laki atau perempuan yang seibu. Yang mendapat seperenam yaitu ibu bila ada anak atau cucu, bapak bila ada anak atau cucu, nenek bila ibu tidak ada, kakek bila bapak tidak ada dan bersama anak atau cucu, cucu perempuan seorang atau lebih bila bersama seorang anak perempuan, seorang saudara yang seibu laki-laki atau perempuan, saudara perempuan sebapak sendiri atau banyak bila bersama saudara perempuan seibu sebapak. 53
 ------------
 51Al Hafizh Ibn Hajar Al Asqalan, Bulughul Maram, Terj. Moh. Machfuddin Aladip, (Semarang : Karya Toha Putra, 1985), hlm. 679
 52Op.Cit,hlm. 57
 53Sulaiman Rasjid,Fiqh Islam,(Bandung : Sinar Baru Algesindo,2000),cet. ke 33, hlm. 355-361
15 Kemudian ada bagian yang mendapat ashobah. Ashobah adalah bentuk tunggal dari ‘ashib, seperti thalib dan thalabah. Mereka adalah anak-anak seseorang dan kerabatnya sebapak ... Mereka yang dimaksud disini adalah orang-orang yang diberi bagian yang tersisa setelah ashabul furudh mengambil bagian mereka yang telah ditetapkan bagi mereka. Ada tiga macam ashobah yaitu ashobah bilghair, ashobah binafsih dan ashobah ma’al ghair. 54 Yang termasuk ashobah binafsih yaitu, anak laki-laki, cucu laki-laki, bapak, kakek, saudara laki-laki seibu sebapak, saudara laki-laki sebapak, anak saudara laki-laki seibu sebapak, anak saudara laki-laki sebapak, paman dari pihak bapak, anak laki-laki paman dari pihak bapak, orang yang memerdekakan mayyit. Yang termasuk ashibah bilghair yaitu, bila ada anak laki-laki bersama anak perempuan, cucu laki-laki bersama cucu perempuan, saudara laki-laki seibu sebapak bersama saudara perempuan seibu sebapak, saudara laki-laki sebapak bersama saudara perempuan sebapak. Ashobah ma’al ghair yaitu saudara perempuan kandung atau saudara-saudara perempuan kandung bersama anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki, saudara perempuan sebapak atau saudara-saudara perempuan sebapak bersama anak perempuan atau cucu perempuan dari anak laki-laki. 55 Selanjutnya ada orang-orang yang terhalang (hijab) mendapat waris karena ada ahli waris lain yang berhak menerimanya. Yaitu hijab nuqshon dan hijab hirman. Hijab nuqshon adalah pengurangan bagian warisan salah seorang diantara para ahli waris lantaran adanya yang lain. Seperti suami seharusnya mendapat setengah, kemudian ada anak, maka suami mendapat seperempat. Isteri seharusnya mendapat seperempat, karena ada anak maka mendapat seperdelapan. Ibu bila tidak ada anak atau cucu mendapat sepertiga, bila ada anak atau cucu mendapat seperenam. Adapun hijab hirman adalah seseorang tertentu terhalangi dari warisannya disebabkan adanya suatu halangan diantaranya tindak pembunuhan atau halangan lainnya. 56 Cara menghitung waris dapat dilakukan dengan langsung atau menggunakan rumus KPK (Kelipatan Persekutuan Kecil) baik menggunakan asal masalah atau tidak. Kemudian menggunakan rumus KPT (Kelipatan Persekutuan Tinggi) atau al ‘Aul dan menggunakan Radd. Al-‘Aul yaitu kelebihan pada prosentase bagian ashabul furudh dan kekurangan dari ketentuan-ketentuan bagian mereka yang telah ditetapkan pada warisan. ------------
 54Sayyid Sabiq,Op.Cit,hlm. 620
 55Muhammad bin Shalih al’Utsman,Panduan Praktis Hukum Waris, (Jakarta: Pustaka Ibnu Katsir,2010,Cet. ke 4, hlm. 97
 56Op.Cit, hlm. 332-354 57Op.Cit, hlm. 622-626
16 Radd adalah penyerahan kelebihan dari bagian-bagian tetap yang diterima ashabul furudh nasabiyah kepada mereka sesuai dengan rposentase bagian tetap mereka jika tidak ada orang lain yang berhak. Yang termaduk Radd adalah anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, saudara perempuan kandung, saudara perempuan sebapak, ibu, nenek, saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu.58 Dari hasil pretest dapat diperoleh nilai rata-rata kelas kurang dari batas minimal yang telah ditetapkan, sehingga untuk meningkatkan prestasi agar siswa dapat memperoleh nilai rata-rata diatas batas minimal, maka diperlukan waktu yang panjang untuk memperbanyak membahas soal-soal waris yang dilakukan dengan menggunakan teknik kompetisi (musabaqah). Teknik kompetisi / perlombaan (musabaqah) adalah teknik yang dilakukan dengan cara memberikan pelajaran kepada peserta didik melalui upaya yang bersifat kompetisi antara peserta didik satu dengan peserta didik lainnya. Bentuk teknik ini dapat berupa olah pikir (seperti cerdas cermat, cepat tepat) ... Teknik ini sangat efektif karena dapat menguras keseluruhan kemampuan yang dimiliki peserta didik dalam waktu yang sesingkat mungkin, peserta didik terbiasa merefleksikan kemampuannya tanpa memikirkan lebih lama. 59 Salah satu upaya yang dilakukan Guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang ilmu warits dengan melakukan kegiatan kompetisi agar siswa mampu memecahkan soal waris dan siswa memperoleh prestasi hasil belajar dengan baik. Atas dasar latar belakang tersebut diatas, penulis hendak melakukan Penelitian Tindakan Kelas dengan judul : PENGAJARAN ILMU WARITS MELALUI TEKNIK KOMPETISI (Penelitian pada SMA Negeri 5 Karawang).
 --------------
 58Ibid, hlm. 626-629
 59Op.Cit,hlm. 207
 17 B. Identifikasi dan Perumusan Masalah Scoup dalam penelitian tindakan kelas ini adalah kelas XII IPA 1 SMA Negeri 5 Karawang tahun ajaran 2011/2012. Jumlah siswa dalam kelas penelitian ini sebanyak 44 siswa. Laki-laki 15 dan Perempuan 29. 60 Menghitung waris sama dengan belajar al-jabbar. Belajar al-Jabbar berarti menguasai ilmu hitung dan rumus-rumus. Tidak mungkin bisa menghitung waris, jika tidak menguasai ilmu hitung dan rumus-rumus, disamping itu juga mesti hafal bagian-bagian yang harus diterima oleh para ahli warisnya. Permasalahannya adalah alokasi waktu yang terbatas, ditambah kurang melakukan latihan membahas soal-soal. Atas dasar pernyataan tersebut di atas, maka dapat diidentifikasikan permasalahannya sebagai berikut : 1. Faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi para siswa kurang berhasil dalam belajar ilmu warits. 2. Upaya apa sajakah yang dilakukan guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan pemahaman dan prestasi hasil belajar siswa. 3. Apakah penggunaan teknik kompetisi dalam materi ilmu warits dapat meningkatkan pemahaman dan prestasi hasil belajar siswa ? 4. Kendala apa saja yang dihadapi Guru Pendidikan Agama Islam dalam pengajaran ilmu warits melalui teknik kompetisi ? Berdasarkan masalah tersebut di atas, maka perumusan masalah yang diajukan adalah sebagai berikut : “ Apakah pengajaran ilmu warits melalui teknik kompetisi mampu meningkatkan pemahaman dan prestasi hasil belajar siswa ?”.
 ------------
 60Wawancara, Data TU SMA Negeri 5 Karawang, 15 Januari 2012
 18 B. Tujuan dan Kegunaan Hasil Penelitian 1. Tujuan Penelitian a. Mendapatkan data tentang pengajaran ilmu warits melalui teknik kompetisi bagi siswa SMA Negeri 5 Karawang. b. Mengungkapkan dan membahas pelaksanaan ilmu warits melalui teknik kompetisi bagi siswa SMA Negeri 5 Karawang. c. Mengungkapkan dan membahas teknik kompetisi dalam meningkatkan pemahaman ilmu warits. 2. Kegunaan Hasil Penelitian Apapun media yang dipergunakan hanya sebagai ikhtiar yang kebenarannya dapat berubah sesuai dengan kondisi, sehingga tidak dijadikan sebagai patokan dasar bahwa alat inilah yang paling benar . Khawatir disuatu saat ada alat lain yang lebih baik dan ternyata lebih banyak yang merespon dan bisa jadi hasilnya lebih baik, maka alat tersebut di atas bukan berarti tidak laku atau tidak dapat dipergunakan. Setidaknya ada keringanan baik bagi guru maupun murid didalam mencari solusi ketika mendapatkan masalah berkaitan dengan belajar ilmu warits yang salah satu diantara alatnya melalui teknik kompetisi bagi siswa SMA Negeri 5 Karawang a. Manfaat bagi Guru 1) Mampu membantu guru dalam mempercepat proses pengajaran ilmu warits melalui teknik kompetisi. 2) Menjadi alternatif bagi guru untuk meningkatkan wawasan dan ketrampilan mengajar dengan mempergunakan teknik kompetisi dalam menyampaikan ilmu warits yang sesuai perkembangan zaman. 19 b. Manfaat bagi Siswa 1) Dengan semakin canggih alat elektronik yang masuk dalam dunia pendidikan, disamping para siswa telah memiliki dasar al-Jabbar, maka akan semakin menarik dan tertantang bagi siswa yang mempunyai minat belajar warits termasuk yang belum, akan berusaha untuk bisa belajar ilmu waris dengan menggunakan teknik kompetisi. 2) Siswa dapat merasakan hasil dari kegiatan tersebut dengan lebih menyenangi materi warits melalui media kompetisi ternyata lebih mudah atau mampu mempercepat siswa menguasai materi yang diajarkan gurunya. c. Manfaat bagi Sekolah 1) Kendala memberikan dana untuk menyediakan perlengkapan dan ruang khusus kompetisi antar siswa tentang waris tidak akan dijadikan hambatan, jika pemanfaatan media tersebut mampu membantu proses tercapainya materi pembelajaran yang dirasakan oleh para siswa dan berimbas bahwa sekolah tersebut berhasil memanfaatkan teknologi canggih termasuk dalam mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. 2) Sekolah sesuai dengan visi dan misinya mampu mengaplikasikan keberhasilan memanfaatkan teknologi canggih, yang berarti mutu pendidikan yang dikelolanya meningkat. d. Manfaat bagi Akademisi 1) Dengan mengembangkan metode mengajar yang bervariasi, akan semakin menarik dan tertantang untuk senantiasa menggali metode yang paling tepat, agar materi yang disajikan mengena sasaran dan hasilnya lebih baik. 2) Suatu metode yang telah teruji kebaikannya maka tidak ada salahnya jika metode tersebut dapat dijadikan rujukan untuk dikembangkan dalam mengajar yakni memberikan materi warist melalui teknik kompetisi. 20 F. Kerangka Pemikiran Pendidikan berusaha mengubah keadaan seseorang dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak dapat berbuat menjadi dapat berbuat, dari tidak bersikap seperti yang diharapkan menjadi bersikap seperti yang diharapkan.61 Pendidikan merupakan upaya manusia yang diarahkan kepada manusia lain, generasi muda, murid, dengan harapan agar mereka ini – berkat pendidikan (dan pengajaran) itu – kelak menjadi manusia yang shaleh, yang berbuat sebagaimana yang seharusnya diperbuat dan menjauhi apa yang tidak patut dilakukan.62 Ahmad Tafsir dalam Filsafat Pendidikan Islami menyatakan bahwa “ Tujuan pendidikan pada dasarnya ditentukan oleh pandangan hidup (way of life) orang yang mendesain pendidikan itu “..63 Nurwadjah Ahmad E.Q. dalam Tafsir Ayat-ayat Pendidikan menyebutkan bahwa “ Pendidikan Islam sebagai proses sadar bertugas menjadwal perkembangan hidup manusia dalam fase-fase dan kedudukannya agar bisa sampai pada tujuannya di dunia ini menjadi hamba Allah “.64 Abdul Fattah Jalal menyatakan bahwa “ Tujuan umum pendidikan dan pengajaran dalam Islam ialah menjadikan manusia- seluruh manusia sebagai abdi atau hamba Allah Swt. “.65 Tujuan utama Pendidikan Islam adalah identik dengan tujuan hidup setiap Muslim, yaitu untuk menjadi hamba Allah, yaitu hamba yang percaya dan menyerahkan diri kepada-Nya dengan memeluk agama Islam “.66 ----------- 61Loc.Cit 62Loc.Cit 63Loc.Cit 64Loc.Cit 65Loc.Cit 66Loc.Cit 21 Dalam Konferensi Pendidikan Islam se-Dunia di Makkah 1977, tujuan pendidikan Islam dirumuskan : Pendidikan seharusnya bertujuan mencapai pertumbuhan kepribadian manusia yang menyeluruh seimbang melalui latihan jiwa, intelek, diri manusia yang rasional, perasaan dan indera. Karena itu pendidikan harus mencapai pertumbuhan manusia dalam segala aspeknya : spiritual, intelektual, imajinatif, fisik, ilmiah, bahasa, baik secara individual maupun secara kolektif, dan mendorong semua aspek ini kea rah kebaikan dan mencapai kesempurnaan. Tujuan akhir pendidikan muslim terletak dalam perwujudan ketundukan yang sempurna kepada Allah baik secara pribadi, komunitas, maupun seluruh umat manusia. 68 Tujuan diberikannya mata pelajaran Pendidikan Agama Islam adalah untuk membentuk peserta didik yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt., memiliki pengetahuan yang luas tentang Islam dan berakhlakul karimah. Oleh karena itu semua mata pelajaran hendaknya seiring dan sejalan dengan tujuan yang ingin dicapai oleh mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Tujuan akhir dari mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di SMA adalah terbentuknya peserta didik yang memiliki akhlak mulia. Tujuan inilah yang sebenarnya merupakan misi utama diutusnya Nabi Muhammad Saw. Dengan demikian, pendidikan akhlak adalah jiwa dari Pendidikan Agama Islam. Mencapai akhlak yang karimah (mulia) adalah tujuan sebenarnya dari pendidikan. Sejalan dengan tujuan ini maka semua mata pelajaran atau bidang studi yang diajarkan kepada peserta didik haruslah mengandung muatan pendidikan akhlak dan setiap guru haruslah memperhatikan akhlak atau tingkah laku peserta didiknya. 69 Abdurrahman Saleh Abdullah menyatakan bahwa “ Materi Pendidikan meliputi : Keserasian yang harmonis antara materi dan tujuan; rumusan pokok klasifikasi ilmu pengetahuan dalam Islam; Islam menolak dualisme sistem kurikulum dan sekularisme … “.70 Sidi Gazalba menyatakan bahwa “ Pola ajaran dan amal Islam menuntun pertumbuhan dan perkembangan manusia. Gerak yang berlangsung ialah : mula-mula ia dibentuk menjadi Mu’min; sesudah itu Muslim; selanjutnya menjadikannya Muhsin “.71
 -----------
 68Loc.Cit
 69Op.Cit,hlm. ix
 70Loc.Cit
 71Loc.Cit
22 Rasulullah Saw. bersabda :
 قال يارسول الله ما الاحسان ؟ قال ان تعبد الله كانك تراه فانك ان لا تراه فانه يرتك . رواه مسلم
Artinya “ … Wahai Rasulullah ! Apakah ihsan itu ? Beliau menjawab. Hendaklah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya, meskipun kamu tidak melihat-Nya, sesungguhnya Dia melihatmu “. (H.R. Shahih Muslim)72 Abuddin Nata dalam Akhlak Tasawuf mengatakan bahwa “ Ciri-ciri insan kamil adalah sebagai berikut : Berfungi akalnya secara optimal; Berfungsi intuisinya; Mampu menciptakan budaya; Menghiasi diri dengan sifat-sifat Ketuhanan; Berakhlak mulia; dan berjiwa seimbang “.73 Setiap pemeluk agama Islam mengetahui dengan pasti bahwa Islam tidak absah tanpa iman, dan iman tidak sempurna tanpa ihsan. Sebaliknya, ihsan adalah mustahil tanpa iman, dan iman juga mustahil tanpa Islam.74 Zakiah Daradjat dkk., menyebutkan bahwa “ Kurikulum dalam pengertian mutakhir adalah semua kegiatan yang memberikan pengalaman kepada siswa (anak didik) di bawah bimbingan dan tanggung jawab sekolah, baik di luar maupun didalam lingkungan dinding sekolah “.75 Esensi kurikulum ialah program. Bahkan kurikulum ialah program. Kata ini memang terkenal dalam ilmu pendidikan. Program apa ? Kurikulum ialah program dalam mencapai tujuan pendidikan.76 Menurut Hasan Langgulung kurikulum adalah “ sejumlah pengalaman pendidikan, kebudayaan, sosial, olahraga dan kesenian yang disediakan oleh sekolah bagi murid-murid di dalam dan di luar sekolah dengan maksud menolongnya untuk berkembang menyeluruh dalam segala segi dan merubah tingkah laku mereka sesuai dengan tujuan-tujuan pendidikan “.77
 -----------
 72Loc.Cit
 73Loc.Cit
 74Loc.Cit
 75Loc.Cit
 76Loc.Cit
 77Loc.Cit
23 Kalau kita bicara tentang metodologi pengajaran disini, pembicaraan kita bukan hanya terbatas pada hal-hal pengajaran saja, tetapi menyangkut soal yang lebih luas … Pendeknya meliputi segala hal yang akan membawa proses belajar-mengajar bisa lebih efektif. Dengan kata lain metodologi ini akan menjawab pertanyaan “bagaimana”(How)? Sedang bagian “mata pelajaran” (knowledge) menjawab pertanyaan apa (what) yang harus dipelajari. 78 Metodologi pendidikan adalah suatu ilmu pengetahuan tentang metode yang dipergunakan dalam pekerjaan mendidik. Asal kata “metode” mengandung pngertian “ suatu jalan yang dilalui untuk mencapai suatu tujuan”. Metode berasal dari dua perkataan yaitu meta dan hodos. Meta berarti “melalui”, dan hodos berarti “jalan atau cara”, bila ditambah dengan logi sehingga menjadi metodologi berarti “ Ilmu pengetahuan tentang jalan atau cara yang harus dilalui” untuk mencapai suatu tujuan, oleh karena logi yang berasal dari bahasa Greek (Yunani) logos berarti “akal” atau “ilmu” 79 Metodologi adalah metodologi pengajaran, yaitu cara-cara yang dapat digunakan guru untuk menyampaikan pelajaran kepada murid. Cara-cara penyampaian dimaksud berlangsung dalam interaksi edukatif dan penggunaan berbagai cara itu merupakan upaya untuk mempertinggi mutu pendidikan / pengajaran yang bersngkutan.80 Ahmad Tafsir menyatakan bahwa didalam “ metode internalisasi ada tiga tujuan pembelajaran. Ini berlaku untuk tujuan pembelajaran apa saja, yaitu : Tahu, mengetahui (knowing); Mampu melaksanakan atau mengerjakan yang ia ketahui itu (doing); Murid menjadi orang seperti yang ia ketahui itu.81
 -----------
78Loc.Cit
 79Loc.Cit
 80Loc.Cit
 81Loc.Cit
 24 Ramayulis mengemukakan ada beberapa metode mengajar dalam pendidikan Islam yang prinsip dasarnya dari al-Qur’an dan hadis, yaitu : 1. Metode ceramah 2. Metode tanya jawab 3. Metode diskusi 4. Metode pemberian tugas 5. Metode demonstrasi 6. Metode eksperimen 7. Metode kerja kelompok 8. Metode kisah 9. Metode amsal 10. Metode targhib dan tarhib. 82 Abdurrahman an-Nahlawi menyebutkan bahwa diantara metode-metode itu, yang paling penting dan paling menonjol ialah : 1. Metode hiwar (percakapan) Qurani dan Nabawi, 2. Mendidik dengan kisah-kisah Qurani dan Nabawi, 3. Mendidik dengan amtsal (perumpamaan) Qurani dan Nabawi, 4. Mendidik dengan member teladan, 5. Mendidik dengan pembiasaan diri dan pengamalan, 6. Mendidik dengan mengambil íbrah (pelajaran) dan mau’dhah (peringatan), 7. Mendidik dengan targhib (membuat senang) dan tarhib (membuat takut). 83 hlm. 283-284 Sumber pembelajaran adalah segala sesuatu yang dapat memberikan informasi atau penjelasan, berupa definisi, teori, konsep, dan penjelasan yang berkaitan dengan pembelajaran... Dalam perkembangan selanjutnya, sumber belajar semakin berkembang, seiring dengan terjadinya kemajuan dalam bidang ilmu pengetahun dan teknologi dan kreativitas manusia. Sumber bekajar yang bukan manusia, melainkan peralatan yang dibuat manusia yang selanjutnya menjadi penyambung lidah keinginan manusia biasanya disebut media. 84Abuddin Nata, hlm. 29
 -----------
 82Loc.Cit
 83Loc.Cit 84Loc.Cit
 25 Selanjutnya Abuddin Nata menyebutkan hal-hal yang menyangkut sumber belajar : a. Manusia Yang dimaksud dengan sumber belajar manusia adalah orang yang secara langsung menyampaikan pesan-pesan pengajaran tanpa menggunakan alat lain sebagai perantara. Seperti dosen, guru, instruktur, tutor, nara sumber dan sebagainya. b. Material (bahan) Material atau bahan sebagai sumber pengajaran adalah sesuatu yang memiliki pesan untuk tujuan pengajaran. Seperti buku paket, audio—tape, video-tape, film, peta, bola dunia, grafik, dan sebagainya. c. Lingkungan Yang dimaksud lingkungan sebagai sumber belajar adalah tempat atau ruangan yang dapat mempengaruhi belajar siswa. Seperti bangunan sekolah, ruang perpustakaan, ruang laboratorium, auditorium, ruang micro teaching, bank mini, ruang praktikum ibadah, ruang praktikum peradilan dan sebagainya. d. Alat dan perlengkapan (Tool and Equipment) Alat atau perlengkapan yang dapat dijadikan sumber pengajaran ialah alat atau peralatan yang dapat digunakan untuk memproduksi sesuatu atau untuk menampilkan sumber-sumber lainnya. Seperti kamera, tape recorder, termo-fex, slide projector, radio, televisi, dan sebagainya. e. Aktivitas Aktivitas sebagai sumber belajar biasanya dapat berupa kombinasi antara suatu teknik penyajian dengan sumber lainnya yang memberikan fasilitas atau kemudahan belajar bagi siswa. Misalnya tentang pengajaran berprogram yang merupakan kombinasi antara teknik penyajian program (bahan) dengan buku (cetak), simulai, karyawisata, system pengajaran modul dan sebagainya. 85 Dalam melaksanakan hukum-hukum agama, unsur yang sangat penting untuk membuat orang patuh ialah rasa kerelaan yang penuh kesadaran, berdasarkan pilihan sendiri. Manusia tunduk kepada agama adalah karena dorongan taat kepada Allah, ingin mendapat pahala dan takut kepada siksaan-Nya. 86
 ------------
 85Abuddin Nata,Op.Cit, hlm. 297-299
 86Loc.Cit
26 Minat seperti yang dipahami dan dipakai oleh orang selama ini dapat memengaruhi kualitas hasil belajar siswa dalam bidang-bidang studi tertentu. Umpamanya seorang siswa yang menaruh minat besar terhadap matematika akan memusatkan perhatiannya lebih banyak daripada siswa lainnya. Kemudian karena pemusatan perhatian yang intensif terhadap materi itulah yang memungkinkan siswa tadi untuk belajar lebih giat, dan akhirnya mencapai prestasi yang diinginkan. 87 Secara umum Pendidikan Agama Islam merupakan mata pelajaran yang dikembangkan dari ajaran-ajaran dasar yang terdapat dalam agama Islam. Ajaran-ajaran dasar tersebut terdapat dala al-Qur’an dan al-Hadits. Untuk kepentingan pendidikan, dengan melalui proses ijtihad maka dikembangkan materi Pendidikan Agama Islam pada tingkat yang lebih rinci. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam tidak hanya mengantarkan peserta didik untuk menguasai berbagai ajaran Islam, tetapi yang terpenting adalah bagaimana peserta didik dapat mengamalkan ajaran-ajaran itu dalam kehidupan sehari-hari. Mata pelajaran Pendidikan Agama Islam menekankan keutuhan dan keterpaduan antara ranah kognitif, psikomotor, dan afektifnya. 88 Pembagian materi pelajaran Pendidikan Agama Islam pada kelas XII Smester 2 meliputi beberapa aspek yaitu : al-Qur’aan dengan alokasi waktu 6 jam, aqidah 4 jam, akhlak terpuji 6 jam, akhlak tercela 6 jam, fiqh 4 jam dan tarikh dan kebudayaan Islam 6 jam. Dari pembagian alokasi waktu tersebut jatah yang terbanyak adalah aspek akhlak dengan 12 jam sedangkan untuk aqidah dan fiqh 4 jam. Materi waris termasuk ke dalam aspek fiqh dengan jumlah jam 4. Yaitu dua kali pertemuan. Atas dasar jatah alokasi waktu yang sedikit dengan jumlah materi waris yang seharusnya diberikan banyak, maka tidaklah cukup untuk mengejar tersampaikannya seluruh materi diberikan.
 -----------
 87M. Syah,Op.Cit, hlm. 134
 88Loc.Cit
 27 Abu Ahmadi menyebutkan bahwa untuk menentukan keberhasilan prestasi belajar salah satu diantaranya yaitu memperhatikan alokasi waktu yang disediakan. Pretasi belajar akan berhasil dengan baik jika waktu yang disediakan dengan waktu yang dibutuhkan seimbang. Bila tidak maka sulit memperoleh hasil yang maksimal. Artinya tidak tercapai prestasi dengan baik. 89 Cara menghitung waris dapat dilakukan dengan langsung atau menggunakan rumus KPK (Kelipatan Persekutuan Kecil) baik menggunakan asal masalah atau tidak. Kemudian menggunakan rumus KPT (Kelipatan Persekutuan Tinggi) atau al ‘Aul dan menggunakan Radd. Al-‘Aul yaitu kelebihan pada prosentase bagian ashabul furudh dan kekurangan dari ketentuan-ketentuan bagian mereka yang telah ditetapkan pada warisan. Radd adalah penyerahan kelebihan dari bagian-bagian tetap yang diterima ashabul furudh nasabiyah kepada mereka sesuai dengan rposentase bagian tetap mereka jika tidak ada orang lain yang berhak. Yang termaduk Radd adalah anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, saudara perempuan kandung, saudara perempuan sebapak, ibu, nenek, saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu. 90 Dari hasil pretest dapat diperoleh nilai rata-rata kelas kurang dari batas minimal yang telah ditetapkan, sehingga untuk meningkatkan prestasi agar siswa dapat memperoleh nilai rata-rata diatas batas minimal, maka diperlukan waktu yang panjang untuk memperbanyak membahas soal-soal waris yang dilakukan dengan menggunakan teknik kompetisi (musabaqah).
 ------------
 89Loc.Cit 90Loc.Cit
 28 Teknik kompetisi / perlombaan (musabaqah) adalah teknik yang dilakukan dengan cara memberikan pelajaran kepada peserta didik melalui upaya yang bersifat kompetisi antara peserta didik satu dengan peserta didik lainnya. Bentuk teknik ini dapat berupa olah pikir (seperti cerdas cermat, cepat tepat) ... Teknik ini sangat efektif karena dapat menguras keseluruhan kemampuan yang dimiliki peserta didik dalam waktu yang sesingkat mungkin, peserta didik terbiasa merefleksikan kemampuannya tanpa memikirkan lebih lama. 91 Salah satu upaya yang dilakukan Guru Pendidikan Agama Islam dalam meningkatkan pemahaman siswa tentang ilmu warits dengan melakukan kegiatan kompetisi agar siswa mampu memecahkan soal waris dan siswa memperoleh prestasi hasil belajar dengan baik. Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid mengatakan bahwa fara’idh adalah bentuk plural dari faridhah. Dalam bahasa Arab, kata faridhah bermakna takaran atau ukuran. Ia adalah betuk subjek (fa’il), namun bermakna objek (maf’ul). Kata tersebut adalah derivasi akar kata al fardhu yang berarti ukuran atau takaran. Dalam syariat, ia memiliki definisi : “Bagian yang sudah ditentukan secara syariat bagi para penerima waris”.92 Allah Swt. Berfirman sebagai berikut : Artinya : “ dan Dia mewariskan kepada kamu tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang belum kamu injak dan adalah Allah Maha Kuasa terhadap segala sesuatu “. (Q.S. Al Ahzab (33) : 27)93
 ------------
 91Loc.Cit
 92Loc.Cit 93Loc.Cit
 29 Allah Swt. berfirman : 
 Artinya : “ Sesungguhnya Kami mewarisi bumi dan semua orang-orang yang ada di atasnya, dan hanya kepada kamilah mereka dikembalikan “. (Q.S. Maryam (19) : 40 )94 Rasulullah Saw. bersabda : Artinya : “ Dari Abu Hurairah, bahwa Nabi Saw. bersabda : “ Pelajarilah faraidh dan ajarkanlah kepada manusia, karena faraidh adalah separoh dari ilmu dan akan dilupakan. Faraidhlah ilmu yang pertama kali dicabut dari umatku “. (H.R. Ibnu Majah dan Ad-Daruquthni).95 Ilmu waris merupakan ilmu yang sarat nilai dan mulia. Ia adalah mahkota dan ‘puncak’ nya ilmu fikih, baik dilihat dari perhitungannya yang terperinci, keadilan dalam distribusi, maupun ketelitian dalam pembagiannya.96 Dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama ditegaskan bahwa kewarisan bagi umat Islam, di seluruh Indonesia, penyelesaiannya menjadi wewenang Peradilan Agama. Tentang hukum yang digunakan dalam menyelesaikan urusan kewarisan itu adalah hukum Islam tentang kewarisan atau yang disebut Hukum Kewarisan Islam atau Faraid.97 Orang-orang Arab sebelum Islam hanya memberikan warisan kepada kaum lelaki saja, sedangkan kaum perempuan tidak mendapatkannya, dan warisan hanya untuk mereka yang sudah dewasa, anak-anak tidak mendapatkannya pula. Disamping itu ada juga waris mewaris yang didasarkan pada perjanjian. Maka Allah membatalkan itu semua dan menurunkan Al Qur’an surat An-Nisa ayat 11. 98
 ------------
94Loc..Cit
95Loc..Cit
96Loc..Cit
97Loc.Cit
98Loc.Cit
 30 Ahmad Musthafa Al Maraghi berpendapat bahwa “ setelah Allah menjelaskan hukum waris secara global di dalam firman-Nya “ lir rijaali nashiibun tarakal waalidaani wal aqrabuun, kemudian Allah menurunkan disini tentang rincian kemajmulan (keglobalan) ayat itu. Untuk itu Allah menjelaskan hokum-hukum waris dan bagian-bagiannya untuk membatalkan hukum waris yang biasa dilakukan oleh orang-orang Arab pada masa jahiliyah yang melarang wanita dan anak-anak mendapatkan bagian waris, dan membolehkan bagian orang-orang yang diharamkan dalam Islam mendapatkannya. 99 Allah Swt. Berfirman : Artinya : “ bagi tiap-tiap harta peninggalan dari harta yang ditinggalkan ibu bapak dan karib kerabat, Kami jadikan pewaris-pewarisnya ….”. (Q.S. An-Nisa (4) : 33)100 Yang dimaksud ayat ini ialah saling mewaris karena nasab. Allah Swt. berfirman : Artinya : “ …. dan (jika ada) orang-orang yang kamu telah bersumpah setia dengan mereka, Maka berilah kepada mereka bahagiannya…. “. (Q.S. An-Nisa (4) : 33)101
F. Hipotesa
 Ada hubungan pengajaran ilmu warits melalui teknik kompetisi dalam meningkatkan pemahaman dan prestasi hasil belajar siswa pada SMA Negeri 5 Karawang.
 ------------
 99Loc.Cit
 100Loc.Cit
 101Loc.Cit

Jumat, 11 Mei 2012

Contoh meghitung warisan Oleh Agus Subandi Di bawah ini ada beberapa contoh atau kasus warisan dari masing-masing bagian Ash-habul Furudh sebagai berikut : 1. Yang mendapat ½ bagian a. Suami Seseorang meninggal dunia, meninggalkan suami, ibu dan paman. Suami memperoleh setengah (1/2) karena suami tidak bersama-sama dengan anak, ibu mendapat sepertiga (1/3) karena yang meninggal tidak ada anak, dan paman mendapat kan sisa harta waris secara lunak yakni hasil pembagian satu. Asal masalah 6 Suami 1/2 x 6 = 3 Ibu 1/6 x 6 = 1 Paman sisa Hartanya Rp 12.000.000 1) Suami = ½ x 6 = 3 = 3/6 x Rp 12.000.000 = Rp 6.000.000 2) Ibu = 1/3 x 6 = 2 = 2/6 x Rp 12.000.000 = Rp 4.000.000 --------------------------------------------------------------------------------------- Jumlah = Rp 2.000.000 Sisa Rp 2.000.000 3) Paman mendapat sisa = Rp 2.000.000 b. Seorang anak perempuan Seseorang meninggal dunia, meninggalkan seorang anak perempuan, ibu dan paman. Seorang anak perempuan mendapat setengah (1/2) , ibu mendapat seperenam (1/6) karena bersama-sama dengan anak perempuan dan paman mendapat sisa. Asal masalah 6 Seorang anak perempuan 1/2 x 6 = 3 Ibu 1/6 x 6 = 1 Paman sisa Hartanya Rp 12.000.000 1) Anak perempuan = ½ x 6 = 3 = 3/6 x Rp 12.000.000 = Rp 6.000.000 2) Ibu = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x Rp 12.000.000 = Rp 2.000.000 ------------------------------------------------------------------------------ Jumlah = Rp 8.000.000 Sisa = Rp 4.000.000 3) Paman mendapat sisa = Rp 4.000.000 c. Seorang cucu perempuan dari anak laki-laki Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris seorang cucu perempuan dari anak laki-laki, nenek dari ibu, dan saudara laki-laki sekandung. Seorang cucu perempuan dari anak laki-laki mendapat setengah (1/2), nenek dari ibu mendapat seperenam (1/6), dan Saudara laki-laki sekandung mendapat sisa. Asal masalah 6 Seorang cucu perempuan dari anak laki-laki 1/2 x 6 = 3 Nenek dari Ibu 1/6 x 6 = 1 Saudara laki-laki sekandung sisa Hartanya Rp 24.000.000 1) Cucu perempuan = ½ x 6 = 3 = 3/6 x Rp 24.000.000 = Rp 12.000.000 2) Nenek dari Ibu = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x Rp 24.000.000 = Rp 4.000.000 ------------------------------------------------------------------------------ Jumlah = Rp 16.000.000 Sisa Rp 8.000.000 3) Saudara laki-laki sekandung mendapat sisa = Rp 8.000.000 d. Saudara perempuan sekandung Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris. Saudara perempuan sekandung, suami dan saudara laki-laki seayah. Saudara perempuan sekandung mendapat setengah (1/2), suami mendapat setengah (1/2), dan saudara laki-laki seayah tidak mendapat waris karena harta telah habis dibagikan kepada ash-habul furudh. Asal masalah 2 Saudara perempuan sekandung 1/2 x 2 = 1 Suami 1/2 x 2 = 1 Saudara laki-laki seayah terhalang saudara perempuan sekandung Hartanya Rp 10.000.000 1) Saudara perempuan sekandung = ½ x 2 = 1 = ½ x Rp 10.000.000 = Rp 5.000.000 2) Suami = ½ x 2 = 1 = ½ x Rp 10.000.000 = Rp 5.000.000 ----------------------------------------------------------------------------------- Jumlah = Rp10.000.000 3) Saudara laki-laki seayah tidak mendapat waris karena terhalang oleh saudara perempuan sekandung dan harta habis oleh ash-habul furudh. e. Saudara perempuan seayah Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris : Saudara perempuan seayah dan paman. Saudara perempuan seayah mendapat setengah (1/2) dan paman mendapat sisa warisan ta’ shib (bagian lunak). Asal masalah 2 Saudara perempuan seayah 1/2 x 2 = 1 Paman sisa Hartanya Rp 8.000.000 1) Saudara perempuan seayah = ½ x 2 = 1 = ½ x Rp 8.000.000 = Rp 4.000.000 ----------------------------------------------------------------------------- Sisa = Rp 4.000.000 2) Paman mendapat sisa = Rp 4.000.000 2. Yang mendapat seperempat ¼ bagian a. Suami Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris : Suami dan seorang anak laki-laki. Suami mendapat seperempat (1/4) karena bersama-sama dengan anak, anak laki-laki mendapat sisa karena termasuk ashobah binafsih. Asal masalah 4 Suami 1/4 x 4 = 1 Anak laki-laki sisa Hartanya Rp 12.000.000 1) Suami = ¼ x 4 = 1 = ¼ x Rp 12.000.000 = Rp 3.000.000 ---------------------------------------------------------------------------------- Sisa Rp 9.000.000 2) Anak laki-laki mendapat sisa Rp 9.000.000 b. Istri Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris : Istri, Saudara laki-laki sekandung dan paman. Istri mendapat seperempat (1/4) karena tidak ada anak. Saudara laki-laki sekandung mendapat sisa karena termasuk golongan ashobah dan paman tidak mendapat karena terhalang oleh saudara laki-laki sekandung. Asal masalah 4 Istri 1/4 x 4 = 1 Saudara laki-laki sekandung sisa Paman terhalang saudara laki-laki sekandung Hartanya Rp 12.000.000 1) Istri = ¼ x 4 = 1 = ¼ x Rp 12.000.000 = Rp 3.000.000 ---------------------------------------------------------------------------------- Sisa Rp 9.000.000 2) Saudara laki-laki sekandung mendapat sisa Rp 9.000.000 3) Paman tidak mendapat waris, terhalang oleh saudara laki-laki sekandung 3. Yang mendapat 1/8 bagian - Istri Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris : Istri, anak perempuan dan anak laki-laki. Istri mendapat seperdelapan (1/8) karena bersama-sama dengan anak. Anak perempuan dan anak laki-laki termasuk ashobah ma’ al ghair. Dengan ketentuan bagian anak laki-laki dua bagian anak perempuan dari sisa ash-habul furudh. Asal masalah 24 Istri 1/8 x 24 = 3 Anak perempuan sisa Anak laki-laki sisa Hartanya Rp 24.000.000 - Istri = 1/8 x 24 = 3 = 3/24 x Rp 24.000.000 = Rp 3.000.000 ----------------------------------------------------------------------------------- Jumlah = Rp 3.000.000 Harta Rp 24.000.000 - Rp 3.000.000 = Rp 21.000.000 Sisa Rp 21.000.000 Yang mendapat sisa : Setiap anak perempuan mendapat 1 bagian dan setiap anak laki-laki mendapat 2 bagian. Anak perempuan = 1/3 x Rp 21.000.000 = Rp 7.000.000 Anak laki-laki = 2/3 x Rp 21.000.000 = Rp 14.000.000 4. Yang mendapat 2/3 bagian a. Dua anak perempuan atau lebih Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris : 3 orang anak perempuan, Istri dan paman. 3 anak perempuan mendapat dua pertiga (2/3) bagian. Istri mendapat 1/8 bagian dan paman mendapatkan sisa.336 Asal masalah pertama 24 kemudian dinaikkan menjadi 72. Asal masalah 24 Asal masalah 72 3 orang anak perempuan 2/3 x 24 = 16 2/3 x 72 = 48 Istri 1/8 x 24 = 3 1/8 x 72 = 9 Paman sisa Hartanya Rp 72.000.000 1) 3 anak perempuan = 2/3 x 24 = 16 3 anak perempuan = 2/3 x 72 = 48 = 48/72 x 72.000.000 = Rp 48.000.000 Tiap anak = Rp 16.000.000 2) Istri = 1/8 x 24 = 3 Istri = 1/8 x 72 = 9 = 9/72 x 72.000.000 = Rp 9.000.000 ------------------------------------------------------------------------------- Jumlah Rp 57.000.000 Sisa Rp 5.000.000 3) Paman mendapat sisa Rp 5.000.000 b. Dua orang cucu perempuan atau lebih dari anak laki-laki Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris : 2 orang cucu perempuan dari anak laki-laki, ibu dan bapak. 2 orang cucu perempuan mendapat 2/3 bagian karena mereka mewarisi tidak bersama-sama mu’asib dan ahli waris keturunan yang derajatnya lebih tinggi, ibu mendapat 1/6 dan bapak mendapat 1/6. Asal masalah 6 2 cucu perempuan dari anak laki-laki 2/3 x 6 = 4 Ibu 1/6 x 6 = 1 Bapak 1/6 x 6 = 1 Hartanya Rp 36.000.000 1) 2 cucu perempuan = 2/3 x 6 = 4 = 4/6 x Rp 36.000.000 = Rp 24.000.000 2) Ibu = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x Rp 36.000.000 = Rp 6.000.000 3) Bapak = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x Rp 36.000.000 = Rp 6.000.000 c. Dua orang saudara perempuan sekandung atau lebih Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris : 2 orang saudara perempuan sekandung, saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu. 2 saudara perempuan sekandung mendapat 2/3, saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu mendapat 1/3 dan dibagi rata tanpa perbedaan antara laki-laki dan perempuan. 340 Pada kasus ini asal masalah di tash-hih menjadi 6 yang awal masalahnya 3. Asal masalah 3 Asal masalah 6 2 saudara perempuan kandung 2/3 x 3 = 2 2/3 x 6 = 4 Saudara laki-laki seibu dan Saudara perempuan seibu 1/3 x 3 = 1 1/3 x 6 = 2 Hartanya Rp 12.000.000 1) 2 saudara perempuan kandung = 2/3 x 3 = 2 2 saudara perempuan kandung = 2/3 x 6 = 4 = 4/6 x 12.000.000 = Rp 8.000.000 Seorang saudara perempuan kandung mendapat = Rp 4.000.000 2) Saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu = 1/3 x 3 = 1 Saudara laki-laki seibu dan saudara perempuan seibu = 1/3 x 6 = 2 Saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu = 2/6 x 12.000.000 = Rp 4.000.000 Saudara laki-laki seibu mendapat = Rp 2.000.000 Saudara perempuan seibu mendapat = Rp 2.000.000 d. Dua orang saudara perempuan seayah atau lebih Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris : 2 orang saudara perempuan seayah, istri dan paman. 2 orang saudara perempuan seayah mendapat duapertiga (2/3), istri memperoleh bagian seperempat (1/4) dan paman mendapat sisa warisan. Asal masalah 12 2 saudara perempuan seayah 2/3 x 12 = 8 Istri 1/4 x 12 = 3 Paman sisa = 1 Hartanya Rp 24.000.000 1) 2 saudara perempuan seayah = 2/3 x 12 = 8 = 8/12 x Rp 24.000.000 = Rp 16.000.000 Seorang saudara perempuan seayah mendapat Rp 8.000.000 2) Istri = ¼ x 12 = 3 = 3/12 x Rp 24.000.000 = Rp 6.000.000 -------------------------------------------------------------------------- Jumlah = Rp 22.000.000 Sisa Rp 2.000.000 3) Paman mendapat sisa = Rp 2.000.000 5. Yang mendapat 1/3 bagian a. Ibu Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris : Ibu, ayah dan saudara laki-laki sekandung. Ibu mendapat sepertiga (1/3) karena tidak bersama-sama dengan ahli waris keturunan yang meninggal, ayah mendapat sisa dan saudara laki-laki sekandung tidak mendapat warisan. Asal masalah 3 Ibu 1/3 x 3 = 1 Ayah sisa = 2 Saudara laki-laki sekandung terhalang ada ayah Hartanya Rp 12.000.000 1) Ibu = 1/3 x 3 = 1 = 1/3 x 12.000.000 = Rp 4.000.000 ------------------------------------------------------------------------------- Sisa = Rp 8.000.000 2) Ayah mendapat sisa Rp 8.000.000 3) Saudara laki-laki sekandung tidak mendapat warisan b. Anak-anak ibu (saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu dua atau lebih) Seseorang meninggal dunia, meninggalkan ahli waris : 2 orang saudara perempuan seibu, suami dn paman. 2 orang saudara perempuan seibu mendapat sepertiga (1/3) karena tidak mewarisi bersama-sama dengan ahli waris keturunan yang meninggal dan tidak mewarisi bersama-sama dengan ahli waris leluhur yang meninggal dari golongan laki-laki (ayah, kakek dan generasi diatasnya), suami mendapat setngah (1/2) karena tidak ada anak dan paman mendapat sisa. Asal masalah 6 Suami 1/2 x 6 = 3 2 orang saudara perempuan seibu 1/3 x 6 = 2 Paman sisa = 1 Hartanya Rp 12.000.000 1) Suami = ½ x 6 = 3 = 3/6 x 12.000.000 = Rp 6.000.000 2) 2 saudara perempuan seibu = 1/3 x 6 = 2 = 2/6 x 12.000.000 = Rp 4.000.000 --------------------------------------------------------------------------------- Jumlah Rp 10.000.000 Sisa Rp 2.000.000 3) Paman mendapat sisa Rp 2.000.000 6. Yang mendapat seperenam (1/6) bagian a. Ayah Seseorang meninggal dunia, ahli warisnya : Ibu, ayah dan anak laki-laki. ibu mendapat 1/6, ayah 1/6 karena ia mewarisi bersama-sama dengan ahli waris keturunan yang meninggal yaitu anak laki-laki dan anak laki-laki tergolong dalam ashobah binafsih mendapat sisa lunak. Asal masalah 6. Ibu 1/6 x 6 = 1 Ayah 1/6 x 6 = 1 Anak laki-laki sisa = 4 Hartanya Rp 12.000.000 1) Ibu = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x 12.000.000 = Rp 2.000.000 2) Ayah = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x 12.000.000 = Rp 2.000.000 ------------------------------------------------------------------------------ Jumlah Rp 4.000.000 Sisa Rp 8.000.000 3) Anak laki-laki mendapat sisa Rp 8.000.000 b. Ibu Seseorang meninggal, ahli warisnya : Istri, ibu dan anak laki-laki. Istri memperoleh bagian seperdelapan (1/8), ibu memperoleh bagian seperenam (1/6) karena bersama-sama dengan ahli waris keturunan yang meninggal, sedangkan anak laki-laki mendapatkan sisa. Asal masalah 24. Istri 1/8 x 24 = 3 Ibu 1/6 x 24 = 4 Anak laki-laki sisa = 17 Hartanya Rp 24.000.000 1) Istri = 1/8 x 24 = 3 = 3/24 x 24.000.000 = Rp 3.000.000 2) Ibu = 1/6 x 24 = 4 = 4/24 x 24.000.000 = Rp 4.000.000 ----------------------------------------------------------------------- Jumlah Rp 7.000.000 Sisa Rp17.000.000 3) Anak laki-laki mendapat sisa Rp17.000.000 c. Kakek Seseorang meninggal, ahli warisnya : Ibu, kakek dan anak laki-laki. Asal masalah 6, dengan perincian : Ibu mendapat 1/6, kakek 1/6 dan anak laki-laki mendapat sisa. Asal masalah 6 Ibu 1/6 x 6 = 1 Kakek 1/6 x 6 = 1 Anak laki-laki sisa = 4 Hartanya Rp 12.000.000 1) Ibu = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x 12.000.000 = Rp 2.000.000 2) Kakek = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x 12.000.000 = Rp 2.000.000 ----------------------------------------------------------------------------- Jumlah Rp 4.000.000 Sisa Rp 8.000.000 3) Anak laki-laki mendapat sisa Rp 8.000.000 d. Seorang cucu perempuan atau lebih Seseorang meninggal, ahli waris : seorang anak perempuan, cucu perempuan dari anak laki-laki, ibu dan ayah. Asal masalah 6, dengan perincian : anak perempuan mendapat ½, cucu perempuan mendapat 1/6, ibu mendapat 1/6 dan ayah mendapat 1/6. Asal masalah 6. Seorang anak perempuan 1/2 x 6 = 3 Cucu perempuan dari anak laki-laki 1/6 x 6 = 1 Ibu 1/6 x 6 = 1 Ayah 1/6 x 6 = 1 Hartanya Rp 12.000.000 1) Anak perempuan = ½ x 6 = 3 = 3/6 x 12.000.000 = Rp 6.000.000 2) Cucu perempuan = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x 12.000.000 = Rp 2.000.000 3) Ibu = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x 12.000.000 = Rp 2.000.000 4) Ayah = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x 12.000.000 = Rp 2.000.000 e. Seorang saudara perempuan seayah atau lebih Seseorang meninggal, ahli waris : Saudara perempuan sekandung, saudara perempuan seayah dan paman. Saudara perempuan sekandung mendapat ½ , saudara perempuan seayah mendapat 1/6 sebagai penyempurna dua pertiga bersama saudara perempuan sekandung dan paman mendapat sisa secara lunak. Asal masalah 6. Saudara perempuan sekandung 1/2 x 6 = 3 Saudara perempuan seayah 1/6 x 6 = 1 Paman sisa = 2 Hartanya Rp 12.000.000 1) Saudara perempuan sekandung = ½ x 6 = 3 = 3/6 x 12.000.000 = Rp 6.000.000 2) Saudara perempuan seayah = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x 12.000.000 = Rp 2.000.000 --------------------------------------------------------------------- Jumlah Rp 8.000.000 Sisa Rp 4.000.000 3) Paman mendapat sisa Rp 4.000.000 f. Anak ibu (saudara laki-laki dan saudara perempuan seibu) Seseorang meninggal, ahli waris : Istri, saudara laki-laki seibu, saudara laki-laki sekandung, dan saudara laki-laki seayah. Istri mendapat ¼ , saudara laki-laki seibu mendapat 1/6, saudara laki-laki sekandung mendapat sisa secara lunak dan saudara laki-laki seayah tidak mendapat waris karena terhalang oleh saudara laki-laki sekandung. Asal masalah 12 Istri 1/4 x 12 = 3 Saudara laki-laki seibu 1/6 x 12 = 2 Saudara laki-laki sekandung sisa = 7 Saudara laki-laki seayah terhalang saudara kandung Hartanya Rp 12. Trilyun 1) Istri = ¼ x 12 = 3 = 3/12 x 12 Trilyun = 3 Trilyun 2) Saudara laki-laki seibu = 1/6 x 12 = 2 = 2/12 x 12 Trilyun = 2 Trilyun -------------------------------------------------------------------------------------- Jumlah 5 Trilyun Sisa 7 Trilyun 3) Saudara laki-laki sekandung mendapat sisa 7 Trilyun 4) Saudara laki-laki seayah tidak mendapat waris terhalang saudara kandung. g. Nenek Seseorang meninggal, ahli waris : Nenek, anak perempuan dan paman. Nenek mendapat 1/6, seorang anak perempuan mendapat ½ bagian dan paman mendapat sisa. Asal masalah 6 Nenek 1/6 x 6 = 1 Seorang anak perempuan 1/2 x 6 = 3 Paman sisa = 2 Hartanya Rp 12 Milyar 1) Nenek = 1/6 x 6 = 1 = 1/6 x 12 Milyar = 2 Milyar 2) Anak perempuan = ½ x 6 = 3 = 3/6 x 12 Milyar = 6 Milyar ----------------------------------------------------------------------------- Jumlah = 8 Milyar Sisa = 4 Milyar 3) Paman mendapat sisa = 4 Milyar

Sabtu, 10 Desember 2011

Aqidah ahlu sunnah wal jama'ah

Agus Subandi,Drs.MBA

عقيدة
أهل السنة والجماعة
بقلم الفقير إلى الله
محمد الصالح العثيمين

بسم الله الرحمن الرحيم
تقديم
الحمد لله وحده والصلاة والسلام على من لا نبي بعده وعلى آله وصحبه.
أما بعد: فقد اطلعت على العقيدة القيمة الموجزة التي جمعها أخونا العلامة فضيلة الشيخ: محمد بن صالح العثيمين، وسمعتها كلها فألفيتها مشتملة على بيان عقيدة أهل السنة والجماعة في باب توحيد الله وأسمائه وصفاته، وفي أبواب الإيمان بالملائكة والكتب والرسل واليوم الآخر، وبالقدر خيره وشره، وقد أجاد في جمعها وأفاد وذكر فيها ما يحتاجه طالب العلم وكل مسلم في إيمانه بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر وبالقدر خيره وشره، وقد ضم إلى ذلك فوائد جمة تتعلق بالعقيدة قد لا توجد في كثير من الكتب المؤلفة في العقائد فجزاه الله خيرا، وزاده من العلم والهدى ونفع بكتابه هذا وبسائر مؤلفاته، وجعلنا وإياه وسائر إخواننا من الهداة المهتدين الداعين إلى الله على بصيرة إنه سميع قريب.
قاله ممليه الفقير إلى الله تعالى: عبد العزيز بن عبد الله بن باز سامحه الله. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وآله وصحبه.
الرئيس العام
لإدارات البحوث العلمية والإفتاء والدعوة والإرشاد


المقدمة
بسم الله الرحمن الرحيم
الحمد لله رب العالمين والعاقبة للمتقين ولا عدوان إلا على الظالمين، وأشهد أن لا الله إلا الله وحده لا شريك له، الملك الحق المبين، وأشهد أن محمدا عبده ورسوله خاتم النبيين وإمام المتقين صلى الله عليه وعلى الله وأصحابه ومن تبعهم بإحسان إلى يوم الدين.
أما بعد: فإن الله تعالى أرسل رسوله محمدا  بالهدى ودين الحق رحمة للعالمين وقدوة للعاملين وحجة على العباد أجمعين.
بين به وبما أنزل عليه من الكتاب والحكمة كل ما فيه صلاح العباد واستقامة أحوالهم في دينهم ودنياهم من العقائد الصحيحة والأعمال القويمة والأخلاق الفاضلة والآداب العالية، فترك  أمته على المحجة البيضاء ليلها كنهارها لا يزيغ عنها إلا هالك.
فسار على ذلك أمته الذين استجابوا لله ورسوله وهم خيرة الخلق من الصحابة والتابعين، والذين اتبعوهم بإحسان، فقاموا بشريعته وتمسكوا بسنته وعضوا عليها بالنواجذ عقيدة وعبادة وخلقا وأدبا، فصاروا هم الطائفة الذين لا يزالون على الحق ظاهرين لا يضرهم من خذلهم أو خالفهم حتى يأتي أمر الله تعالى وهم على ذلك.
ونحن -ولله الحمد- على أثارهم سائرون وبسيرتهم المؤيدة بالكتاب والسنة مهتدون نقول ذلك تحدثا بنعمة الله تعالى وبيانا لما يجب أن يكون عليه كل مؤمن.
ونسأل الله تعالى أن يثبتنا وإخواننا المسلمين بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة، وأن يهب لنا منه رحمة إنه هو الوهاب.
ولأهمية هذا الموضوع وتفرق أهواء الخلق فيه أحببت أن أكتب على سبيل الاختصار عقيدتنا، عقيدة أهل السنة والجماعة وهي: الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر والقدر خيره وشره، سائلا الله تعالى أن يجعل ذلك خالصا لوجهه موافقا لمرضاته نافعا لعباده.

عقيدتنا
عقيدتنا: الإيمان بالله وملائكته وكتبه ورسله واليوم الآخر والقدر خيره وشره.
فنؤمن بربوبية الله تعالى؛ أي بأنه الرب الخالق المالك المدبر لجميع الأمور.
ونؤمن بألوهية الله تعالى؛ أي بأنه الإله الحق وكل معبود سواه باطل.
ونؤمن بأسمائه وصفاته؛ أي بأنه له الأسماء الحسنى والصفات الكاملة العليا.
ونؤمن بوحدانيته في ذلك؛ أي بأنه لا شريك له في ربوبيته ولا في ألوهيته ولا في أسمائه وصفاته، قال الله تعالى: {               } ( ) ( سورة مريم الآية 65 ).
ونؤمن بأنه: {                                                            } ( ) ( سورة البقرة الآية 255 ).
ونؤمن بأنه: {                         •                                  } ( ) ( سورة الحشر الآيات 22-24 ).
ونؤمـن بـأن لـه ملك السمـاوات والأرض {                            } ( ) ( سورة الشورى من الآية 49 والآية 50 ).
ونؤمن بأنه: {                         } ( ) ( سورة الشورى من الآية 11 والآية 12 ).
ونؤمن بأنه: {                    } ( ) ( سورة هود الآية 6 ).
ونـؤمن بـأنه: {                                    } ( ) ( سورة هود الآية 59 ). ونؤمن بأن الله: {              •           •     } ( ) ( سورة لقمان من الآية 34 ).
ونـؤمن بأن الله يتكلم بما شـاء متى شـاء كيـف شاء: {      } ( ) ( سورة النساء من الآية 164 ). {      } ( ) ( سورة الأعراف من الآية 143 ) {         } ( ) ( سورة مريم الآية 52 ).
ونؤمن بأنه: {             } ( ) ( سورة الكهف من الآية 109 ) {              •     •     } ( ) ( سورة لقمان الآية 27 ).
ونؤمن بأن كلماته أتم الكلمات صدقا في الأخبار وعدلا في الأحكام وحسنا في الحديث، قال الله تعالى: {       } ( ) ( سورة الأنعام من الآية 115 ) وقال: {       } ( ) ( سورة النساء الآية 87 ).
ونؤمن بأن القرآن الكريم كلام الله تعالى تكلم به حقا وألقاه إلى جبريل فنزل به جبريل على قلب النبي  .
{  •  •    } ( ) ( سورة النحل من الآية 102 ) {                     } ( ) ( سورة الشعراء الآيات 192- 195 ).
ونؤمن بأن الله  علي على خلقه بذاته وصفاته لقوله تعالى: {     } ( ) ( سورة البقرة من الآية 255 ) وقوله: {          } ( ) ( سـورة الأنعام الآيـة : 18 ).
ونـؤمـن بأنه {               } ( ) ( سورة يونس من الآية 3 ) واستواؤه على العرش علوه عليه بذاته علوا خاصا يليق بجلاله وعظمته لا يعلم كيفيته إلا هو.
ونؤمن بأنه تعالى مع خلقه وهو على عرشه يعلم أحوالهم ويسمع أقوالهم ويرى أفعالهم، ويدبر أمورهم يرزق الفقير ويجبر الكسير، يؤتي الملك من يشاء وينزع الملك ممن يشاء، ويعز من يشاء ويذل من يشاء، بيده الخير وهو على كل شيء قدير، ومن كان هذا شأنه كان مع خلقه حقيقة وإن كان فوقهم على عرشه حقيقة {         } ( ) ( سورة الشورى من الآية 11 ).
ولا نقول كما تقول الحلولية من الجهمية وغيرهم إنه مع خلقه في الأرض.
ونرى أن من قال ذلك فهو كافر أو ضال؛ لأنه وصف الله بما لا يليق من النقائص.
ونؤمن بما أخبر به عنه رسوله  أنه ينزل كل ليلة إلى السماء الدنيا حين يبقى ثلث الليل الأخير فيقول: {من يدعوني فأستجيب له من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له} ( ) .
ونؤمن بأنه سبحانه وتعالى يأتي يوم المعاد للفصل بين العباد لقوله تعالى: {                •        } ( ) ( سورة الفجر الآيات 21- 23 ) ونؤمن بأنه تعالى { •   } ( ) ( سورة البروج الآية 16 ).
ونؤمن بأن إرادته تعالى نوعان:
كونية: يقع بها مراده ولا يلزم أن يكون محبوبا له وهي التي بمعنى المشيئة كقوله تعالى: {           } ( ) ( سورة البقرة من الآية 253 ) {          } ( ) ( سورة هود من الآية 34 ).
وشرعية: لا يلزم بها وقـوع المراد ولا يكون المراد فيها إلا محبوبا له. كقوله تعالى: {      } ( ) ( سورة النساء من الآية 27 ).
ونؤمن بأن مراده الكوني والشرعي تابع لحكمته فكل ما قضاه كونا أو تعبد به خلقه شرعا فإنه لحكمة وعلى وفق الحكمة سواء علمنا منها ما نعلم أو تقاصرت عقولنا عن ذلك {     } ( ) ( سورة التين الآية 8 ) {        } ( ) ( سورة المائدة من الآية 50 ).
ونؤمن بأن الله تعالى يحب أولياءه وهم يحبونه {      •  } ( ) ( سورة آل عمران من الآية 31 ) {      } ( ) ( سورة المائدة من الآية 54 ) {    } ( ) ( سورة آل عمران من الآية 146 ) {   •    } ( ) ( سورة الحجرات من الآية 9 ) {   •    } ( ) ( سورة البقرة من الآية 195 ).
ونـؤمن بأن الله تعـالى يرضى مـا شرعه مـن الأعمال والأقـوال ويكـره ما نهى عنه منها {                 } ( ) ( سورة الزمر من الآية 7 ) {          } ( ) ( سورة التوبة من الآية 46 ).
ونؤمن بأن الله تعالى يرضى عن الذين آمنوا وعملوا الصالحات {           } ( ) ( سورة البينة من الآية 8 ).
ونـؤمن بأن الله تعـالى يغضب عـلى مـن يستحق الغضب من الكافرين وغيرهم {             } ( ) ( سـورة الفتح من الآية 6 ) {  •            } ( ) ( سورة النحل من الآية 106 ).
ونؤمن بأن لله تعالى وجها موصوفا بالجلال والإكرام {        } ( ) ( سورة الرحمن الآية 27 ).
ونؤمـن بأن لله تعالى يـدين كريمتين عظيمتين {        } ( ) ( سـورة المائـدة مـن الآيـة : 64 ) {    •                 } ( ) ( سورة الزمر الآية 67 ).
ونؤمن بأن لله تعالى عينين اثنتين حقيقيتين لقوله تعالى: {     } ( ) ( سورة هود من الآية 37 ) وقال النبي  {حجابه النور لو كشفه لأحرقت سبحات وجهه ما انتهى إليه بصره من خلقه} ( ) .
وأجمع أهل السنة على أن العينين اثنتان ويؤيده قول النبي  في الدجال: {إنه أعور وإن ربكم ليس بأعور} ( ) .
ونـؤمن بـأن اللـه تعالى {            } ( ) ( سورة الأنعام الآية 103 ).
ونـؤمن بأن المـؤمنين يرون ربهم يوم القيامة {         } ( ) ( سورة القيامة الآيتان 22، 23 ).
ونؤمن بان الله تعالى لا مثل له لكمال صفاته {         } ( ) ( سورة الشورى من الآية ( 11 ).
ونؤمن بأنه {      } ( ) ( سورة البقرة من الآية 255 ) لكمال حياته وقوميته.
ونؤمن بأنه لا يظلم أحدا لكمال عدله.
وبأنه ليس بغافل عن أعمال عباده لكمال رقابته وإحاطته.
ونؤمن بأنه لا يعجزه شيء في السماوات ولا في الأرض لكمال علمه وقدرته {           } ( ) ( سورة يس الآية 82 ).
وبأنه لا يلحقه تعب ولا إعياء لكمال قوته {              } ( ) ( سورة ق الآية 38 ) أي من تغيب ولا إعياء.
ونؤمن بثبوت كل ما أثبته الله لنفسه أو أثبته له رسوله  من الأسماء والصفات لكننا نتبرأ من محذورين عظيمين هما: التمثيل أن يقول بقلبه أو لسانه: صفات الله تعالى كصفات المخلوقين. والتكييف أن يقول بقلبه أو لسانه: كيفية صفات الله تعالى كذا وكذا.
ونؤمن بانتفاء كل ما نفاه الله عن نفسه أو نفله عنه رسوله  وأن ذلك والنفي يتضمن إثباتا لكمال ضده. ونسكت عما سكت عنه الله ورسوله.
ونرى أن السير على هذا الطريق فرض لابد منه؛ وذلك لأن ما أثبته الله لنفسه أو نفاه عنها سبحانه فهو خبر أخبر الله به عن نفسه وهو سبحانه أعلم بنفسه وأصدق قيلا وأحسن حديثا والعباد لا يحيطون به علما.
وما أثبته له رسوله أو نفاه عنه فهو خبر أخبر به عنه وهو أعلم الناس بربه وأنصح الخلق وأصدقهم وأفصحهم.
ففي كلام الله تعالى ورسوله  كمال العلم والصدق والبيان فلا عذر في رده أو التردد في قبوله.

فصل
في الاعتماد في الإثبات والنفي على الكتاب والسنة وفهم سلف الأمة
وكل ما ذكرناه من صفات الله تعالى تفصيلا أو إجمالا إثباتا أو نفيا فإننا في ذلك على كتاب ربنا وسنة نبينا معتمدون وعلى ما سار عليه سلف الأمة وأئمة الهدى من بعدهم سائرون.
ونرى وجوب إجراء نصوص الكتاب والسنة في ذلك على ظاهرها وحملها على حقيقتها اللائقة بالله عز وجل.
ونتبرأ من طريق المحرفين لها الذين صرفوها إلى غير ما أراد الله بها ورسوله.
ومن طريق المعطلين لها الذين عطلوها عن مدلولها الذي أراده الله ورسوله.
ومن طرق الغالبين فيها الذين حملوها على التمثيل أو تكلفوا لمدلولها التكييف.
ونعلم علم اليقين أن ما جاء في كتاب الله تعالى أو سنة نبيه  فهو حق لا يناقض بعضه بعضا لقوله تعالى: {                } ( ) ( سوره النساء 82 ) ولأن التناقض في الأخبار يستلزم تكذيب بعضها، وهذا محال في خبر الله تعالى ورسوله  .
ومن ادعى أن في كتاب الله تعالى أو سنة رسوله  أو بينهما تناقضا فذلك لسوء قصده وزيغ قلبه فليتب إلى الله تعالى ولينزع عن غيه.
ومن توهم التناقض في كتاب الله تعالى أو في سنة رسول الله  أو بينهما فذلك إما لقلة علمه أو قصور فهمه أو تقصيره في التدبر فليبحث عن العلم وليجتهد في التدبر حتى يتبين له الحق فإن لم يتبين له فليكل الأمر إلى عالمه وليكف عن توهمه، وليقل كما يقول الراسخون في العلم { •       } ( ) ( سورة آل عمران من الآية 7 ) وليعلم أن الكتاب والسنة لا تناقض فيهما ولا بينهما ولا اختلاف.
فصل
في الإيمان بالملائكة
ونؤمن بملائكة الله تعالى وأنهم {           } ( ) ( سورة الأنبياء من الآية 26 والآية 27 ).
خلقهم الله تعالى فقاموا بعبادته وانقادوا لطاعته {          •    } ( ) ( سورة الأنبياء من الآية 19 والآية 20 ).
حجبهم الله عنا فلا نراهم وربما كشفهم لبعض عباده، فقد رأى النبي  جبريل على صورته له ستمائة جناح قد سد الأفق. وتمثل جبريل لمريم بشرا سويا فخاطبته وخاطبها. وأتى إلى النبي  وعنده الصحابة بصورة رجل لا يعرف ولا يرى عليه أثر السفر، شديد بياض الثياب شديد سواد الشعر، فجلس إلى النبي  فأسند ركبتيه إلى ركبتي النبي  ووضع كفيه على فخذيه وخاطب النبي  وخاطبه النبي  وأخبر النبي  أصحابه أنه جبريل.
ونؤمن بأن للملائكة أعمالا كلفوا بها.
فمنهم جبريل الموكل بالوحي ينزل به من عند الله على من يشاء من أنبيائه ورسله.
ومنهم ميكائيل الموكل بالمطر والنبات.
ومنهم إسرافيل الموكل بالنفخ في الصور حين الصعق و النشور.
ومنهم ملك الموت الموكل بقبض الأرواح عند الموت.
ومنهم ملك الجبال الموكل بها.
ومنهم مالك خازن النار.
ومنهم ملائكة موكلون بالأجنة في الأرحام وآخرون موكلون بحفظ بني آدم، وآخرون موكلون بكتابة أعمالهم لكل شخص ملكان {       •         } ( ) ( سورة ق من الآية 17 والآية 18 ) وآخرون موكلون بسؤال الميت بعد الانتهاء من تسليمه إلى مثواه يأتيه ملكان يسألانه عن ربه ودينه ونبيه ف {      •                } ( ) ( سورة إبراهيم الآية 27 ). ومنهم الملائكة الموكلون بأهل الجنة {               } ( ) ( سورة الرعد من الآية 23 والآية 24 ). وقد أخبر النبي  أن البيت المعمور في السماء يدخله -وفي رواية يصلي فيه- كل يوم سبعون ألف ملك ثم لا يعودون إليه آخر ما عليهم.
فصل
في الإيمان بكتب الله على رسله
ونؤمن بأن الله تعالى أنزل على رسله كتبا حجة على العالمين ومحجة للعاملين، يعلمونهم بها الحكمة ويزكونهم. ونؤمن بأن الله تعالى أنزل مع كل رسول كتابا لقوله تـعالى: {          ••   } ( ) ( سورة الحديد من الآية 25 ).
ونعلم من هذه الكتب:
أ ) التوراة التي أنزلها الله تعالى على موسى  وهي أعظم كتب بني إسرائيل {       •                } ( ) ( سورة المائدة من الآية 44 ).
ب ) الإنجيل الذي أنزلـه الله تعالى على عيسى  وهو مصدق للتوراة ومتمم لها {                } ( ) ( سـورة المائـدة مـن الآية 46 ) { •       } ( ) ( سورة آل عمران من الآية 50 ).
ج ) الزبور الذي آتاه الله تعالى داود  .
د ) صحف إبراهيم وموسى عليهما الصلاة والسلام.
هـ ) القرآن العظيم الذي أنزله الله على نبيه محمد خاتم النبيين {  ••      } ( ) ( سورة البقرة من الآية 185 ) فكان {       •   } ( ) ( سورة المائدة من الآية 48 ) فنسخ الله به جميع الكتب السابقة وتكفل بحفظه عن عبث العابثين وزيغ المحرفين {   •      } ( ) ( سورة الحجر الآية 9 ) لأنه سيبقى حجة على الخلق أجمعين إلى يوم القيامة.
أما الكتب السابقة فإنها مؤقتة بأمد ينتهي بنزول ما ينسخها ويبين ما حصل فيها من تحريف وتغيير؛ ولهذا لم تكن معصومة منه فقـد وقـع فيها التحريف والزيادة والنقص: {       • } ( ) ( سورة النساء من الآية 46 ).
{                           } ( ) ( سـورة البقرة الآية 79 ).
{           ••        } ( ) ( سورة الأنعام من الآية 91 ).
{ •                                         ••      } ( ) ( سورة آل عمران الآية 78 ومن الآية 79 ).
{             } ( ) ( سورة المائدة من الآية 15 ) إلى قوله: {     •      } ( ) ( سورة المائدة من الآية 17 ).
فصل
في الإيمان بالرسل
ونؤمن بأن الله تعالى بعث إلى خلقه رسلا {     ••            } ( ) ( سورة النساء من الآية 165 ).
ونؤمن بأن أولهم نوح وآخرهم محمد صلى الله عليهم وسلم أجمعين {         •    } ( ) ( سـورة النساء مـن الآية 163 ) { •           •  } ( ) ( سورة الأحزاب من الآية 40 ).
وأن أفضلهم محمد ثم إبراهيم ثم موسى ثم نوح وعيسى ابن مريم وهم المخصوصون في قوله تعالى {    •                } ( ) ( سورة الأحزاب الآية 7 ). ونعتقد أن شريعة محمد  حاوية لفضائل شرائع هؤلاء الرسل المخصوصين بالفضل لقوله تعالى: {                           } ( ) ( سورة الشورى من الآية 13 ).
ونؤمن أن جميع الرسل بشر مخلوقون ليس لهم من خصائص الربوبية شيء قال الله تعالى عن نوح وهو أولهم: {              } ( ) ( سورة هود من الآية 31 ) وأمر الله تعالى محمدا وهو آخرهم أن يقول: {                } ( ) ( سورة الأنعـام مـن الآيـة : 50 ) وأن يقـول: {            } ( ) ( سورة الأعراف من الآية 188 ) وأن يقول: {                      } ( ) ( سورة الجن من الآية 21 والآية 22 ).
ونؤمن بأنهم عبيد من عباد الله أكرمهم الله تعالى بالرسالة ووصفهم بالعبودية في أعلى مقاماتهم وفي سياق الثناء عليهم فقال في أولهم نوح: {            } ( ) ( سورة الإسراء الآية 3 ) وقال في آخرهم محمد  {   •      •  } ( ) ( سورة الفرقان الآية 1 ) وقال في رسل آخرين: {          } ( ) ( سـورة ص الآيـة : 45 ) {        •  } ( ) ( سورة ص من الآية 17 ) {         •  } ( )( سورة ص الآية 30 ) وقال في عيسى ابن مريم: {            } ( ) ( سورة الزخرف الآية 59 ).
ونؤمن بأن الله تعالى ختم الرسالات برسالة محمد  وأرسله إلى جميع الناس لقوله تعالى: {   •     •                 •      •    } ( ) ( سورة الأعراف الآية 158 ).
ونؤمن بأن شريعته  هي دين الإسلام الذي ارتضاه الله تعالى لعباده، وأن الله تعالى لا يقبل من أحد دينا سواه لقوله تعالى: { •      } ( ) ( سورة آل عمران من الآية 19 ) وقوله: {             } ( ) ( سورة المائدة من الآية 3 ) وقوله: {               } ( ) ( سورة آل عمران الآية 85 ).
ونرى أن من زعم اليوم دينا قائما مقبولا عند الله سوى دين الإسلام من دين اليهودية أو النصرانية أو غيرهما فهو كافر يستتاب فإن تاب وإلا قتل مرتدا؛ لأنه مكذب للقرآن.
ونرى أن من كفر برسالة محمد  إلى الناس جميعا فقد كفر بجميع الرسل حتى برسولـه الذي يزعم أنـه مـؤمن به متبع له لقولـه تعالى: {      } ( ) ( سورة الشعراء الآية 105 ) فجعلت مكذبين لجميع الرسل مع أنه لم يسبق نوحا رسول وقال تعالى: { •                                 } ( ) ( سورة النساء الآيتان 150، 151 ).
ونؤمن بأنه لا نبي بعد محمد رسول الله  ومن ادعى النبوة بعده أو صدق من ادعاها فهو كافر؛ لأنه مكذب لله ورسوله وإجماع المسلمين.
ونؤمن بأن للنبي  خلفاء راشدين خلفوه في أمته علما ودعوة وولاية على المؤمنين، وبأن أفضلهم وأحقهم بالخلافة أبو بكر الصديق ثم عمر بن الخطاب ثم عثمان بن عفان ثم علي بن أبي طالب رضي الله عنهم أجمعين.
وهكذا كانوا في الخلافة قدرا كما كانوا في الفضيلة، وما كان الله تعالى -وله الحكمة البالغة- ليولي على خير القرون رجلا وفيهم من هو خير منه وأجدر بالخلافة.
ونؤمن بأن المفضول من هؤلاء قد يتميز بخصيصة يفوق فيها من هو أفضل منه لكنه لا يستحق بها الفضل المطلق على من فضله؛ لأن موجبات الفضل كثيرة متنوعة.
ونؤمن بأن هذه الأمة خير الأم وأكرمها على الله  لقوله تعالى: {   •  ••         } ( ) ( سورة آل عمران من الآية 115 ).
ونؤمن بأن خير هذه الأمة الصحابة ثم التابعون ثم تابعوهم.
وبأنه لا تزال طائفة من هذه الأمة على الحق ظاهرين لا يضرهم من خذلهم أو خالفهم حتى يأتي أمر الله عز وجل.
ونعتقد أن ما جرى بين الصحابة رضي الله عنهم من الفتن فقد صدر عن تأويل اجتهدوا فيه فمن كان منهم مصيبا كان له أجران، ومن كان منهم مخطئا فله أجر واحد وخطؤه مغفور له.
ونرى أنه يجب أن نكف عن مساوئهم فلا نذكرهم إلا بما يستحقونه من الثناء الجميل، وأن نطهر قلوبنا من الغل والحقد على أحد منهم لقوله تعالى فيهم: {    •                      } ( ) ( سورة الحديد من الآية 10 ) وقول الله تعالى فينا {                     •    } ( ) ( سورة الحشر الآية 10 ).
فصل
في الإيمان باليوم الآخر
ونؤمن باليوم الآخر وهو يوم القيامة الذي لا يوم بعده حين يبعث الناس أحياء للبقاء إما في دار النعيم، وإما في دار العذاب الأليم.
فنؤمن بالبعث وهو إحياء الله تعالى الموتى حين ينفخ إسرافيل في الصور النفخة الثانية {                         } ( ) ( سورة الزمر الآية 68 ) فيقوم الناس من قبورهم لرب العالمين حفاة بلا نعال، عراة بلا ثياب غرلا بلا ختان {   •        •   } ( ) ( سورة الأنبياء من الآية 104 ).
ونؤمن بصحائف الأعمال تعطى باليمين أو من وراء الظهور بالشمال { •                •            •  } ( ) ( سورة الانشقاق الآيات 7-12 ) { •             •          } ( ) ( سورة الإسراء الآيتان 13، 14 ).
ونؤمن بالموازين توضع يوم القيامة فلا تظلم نفس شيئا {               } ( ) ( سورة الزلزلة الآيتان 7، 8 ) {                •     •     } ( ) ( سورة المؤمنون الآيات 102-104 ) {                   } ( ) ( سورة الأنعام الآية 160 ).
ونؤمن بالشفاعة العظمى لرسول الله  خاصة يشفع عند الله تعالى بإذنه ليقضي بين عباده حين يصيبهم من الهم والكرب ما لا يطيقون، فيذهبون إلى آدم ثم نوح ثم إبراهيم ثم موسى ثم عيسى حتى تنتهي إلى رسول الله  .
ونؤمن بالشفاعة فيمن دخل النار من المؤمنين أن يخرجوا منها وهي للنبي  وغيره من النبيين والمؤمنين والملائكة.
وبأن الله تعالى يخرج من النار أقواما من المؤمنين بغير شفاعة بل بفضله ورحمته.
ونؤمن بحوض رسول الله  ماؤه أشد بياضا من اللبن وأحلى من العسل، وأطيب من رائحة المسك طوله شهر، وعرضه شهر، وآنيته كنجوم السماء حسنا وكثرة، يرده المؤمنون من أمته من شرب منه لم يظمأ بعد ذلك.
ونؤمن بالصراط المنصوب على جهنم يمر الناس عليه على قدر أعمالهم فيمر أولهم كالبرق ثم كمر الريح، ثم كمر الطير وشد الرجال، والنبي  قائم على الصراط يقول: يا رب سلم سلم، حتى تعجز أعمال العباد فيأتي من يزحف، وفي حافتي الصراط كلاليب معلقة مأمورة تأخذ من أمرت به فمخدوش ناج ومكردس في النار. ونؤمن بكل ما جاء في الكتاب والسنة من أخبار ذلك اليوم وأهواله أعاننا الله عليها.
ونؤمن بشفاعة النبي  لأهل الجنة أن يدخلوها، وهي للنبي  خاصة.
ونؤمن بالجنة والنار، فالجنة دار النعيم التي أعدها الله للمؤمنين المتقين، فيها من النعيم ما لا عين رأت ولا أذن سمعت ولا خطر على قلب بشر {    •           } ( ) ( سورة السجدة الآية 17 ).
والنار دار العذاب التي أعدها الله تعالى للكافرين الظالمين، فيها من العذاب والنكال ما لا يخطر على البال {    •                  } ( ) ( سـورة الكهف من الآية 29 ).
وهما موجودتان الآن ولن تفنيا أبد الآبدين {       •               } ( ) ( سورة الطلاق مـن الآيـة : 11 ) { •      •                •        } ( ) ( سورة الأحزاب الآيات 64-66 ).
ونشهد بالجنة لكل من شهد له الكتاب والسنة بالعين أو بالوصف: فمن الشهادة بالعين الشهادة لأبي بكر وعمر وعثمان وعلي ونحوهم ممن عينهم النبي  .
ومن الشهادة بالوصف الشهادة لكل مؤمن أو تقي.
ونشهد بالنار لكل من شهد له الكتاب والسنة بالعين أو بالوصف:
فمن الشهادة بالعين الشهادة لأبي لهب وعمرو بن لحي الخزاعي ونحوهما.
ومن الشهادة بالوصف الشهادة لكل كافر أو مشرك شركا أكبر أو منافق.
ونؤمن بفتنة القبر وهي سؤال الميت في قبره عن ربه ودينه ونبيه ف {      •       } ( ) ( سورة إبراهيم من الآية 27 ) فيقول المؤمن: ربي الله وديني الإسلام ونبيي محمد، وأما الكافر والمنافق فيقول: لا أدري سمعت الناس يقولون شيئا فقلته.
ونؤمن بنعيم القبر للمؤمنين {          •     } ( ) ( سورة النحل الآية 32 ).
ونؤمن بعذاب القبر للظالمين الكافرين {                              } ( ) ( سورة الأنعام من الآية 93 ).
والأحاديث في هذا كثيرة معلومة، فعلى المؤمن أن يؤمن بكل ما جاء به الكتاب والسنة من هذه الأمور الغيبية وأن لا يعارضها بما يشاهد في الدنيا، فإن أمور الآخرة لا تقاس بأمور الدنيا لظهور الفرق الكبير بينهما. والله المستعان.
فصل
في الإيمان بالقدر خيره وشره
ونؤمن بالقدر خيره وشره، وهو تقدير الله تعالى للكائنات حسبما سبق به علمه واقتضته حكمته.
وللقدر أربع مراتب:
المرتبة الأولى: العلم، فنؤمن بأن الله تعالى بكل شيء عليم، علم ما كان وما يكون وكيف يكون بعلمه الأزلي الأبدي، فلا يتجدد له علم بعد جهل ولا يلحقه نسيان بعد علم.
المرتبة الثانية: الكتابة فنؤمن بأن الله تعالى كتب في اللوح المحفوظ ما هو كائن إلى يوم القيامة: {           •     •      } ( ) ( سورة الحج الآية 70 ).
المرتبة الثالثة: المشيئة فنؤمن بأن الله تعالى قد شاء كل ما في السماوات والأرض لا يكون شيء إلا بمشيئته ما شاء الله كان وما لم يشأ لم يكن.
المرتبة الرابعة: الخلق فنؤمن بأن الله تعالى {                } ( ) ( سورة الزمر الآيتان 62، 63 ).
وهذه المراتب الأربع شاملة لما يكون من الله تعالى نفسه، ولما يكون من العباد فكل ما يقوم به العباد من أقوال أو أفعال أو تروك فهي معلومة لله تعالى مكتوبة عنده والله تعالى قد شاءها وخلقها {                } ( ) ( سورة التكوير الآيتان 28، 29 ) {            } ( ) ( سورة البقرة من الآية 253 ) {           } ( ) ( سورة الأنعام من الآية 137 ) {      } ( ) ( سورة الصافات الآية 96 ).
ولكننا مع ذلك نؤمن بأن الله تعالى جعل للعبد اختيارا وقدرة بهما يكون الفعل.
والدليل على أن فعل العبد باختياره وقدرته أمور:
الأول: قوله تعالى: {      } ( ) ( سورة البقرة من الآية 223 ) وقوله: {        } ( ) ( سورة التوبة من الآية 46 ) فأثبت للعبد إتيانا بمشيئته وإعدادا بإرادته.
الثاني: توجيه الأمر والنهي إلى العبد، ولو لم يكن له اختيار وقدرة لكان توجيه ذلك إليه من التكليف بما لا يطاق، وهو أمر تأباه حكمة الله تعالى ورحمته وخبره الصادق في قوله: {        } ( ) ( سورة البقرة من الآية 286 ).
الثالث: مدح المحسن على إحسانه وذم المسيء على إساءته، وإثابة كل منهما بما يستحق. ولولا أن الفعل يقع بإرادة العبد واختياره لكان مدح المحسن عبثا، وعقوبة المسيء ظلما، والله تعالى منزه عن العبث والظلم.
الرابع: أن الله تعالى أرسل الرسل {     ••       } ( ) ( النساء من الآية 165 ) ولولا أن فعل العبد يقع بإرادته واختياره ما بطلت حجته بإرسال الرسل.
الخامس: أن كل فاعل يحس أنه يفعل الشيء أو يتركه بدون أي شعور بإكراه، فهو يقوم ويقعد ويدخل ويخرج ويسافر ويقيم بمحض إرادته ولا يشعر بأن أحدا يكرهه على ذلك، بل يفرق تفريقا واقعيا بين أن يفعل الشيء باختياره، وبين أن يكرهه عليه مكره، وكذلك فرق الشرع بينهما تفريقا حكيما، فلم يؤاخذ الفاعل بما فعله مكرها عليه فيما يتعلق بحق الله تعالى.
ونرى انه لا حجة للعاصي على معصيته بقدر الله تعالى؛ لأن العاصي يقدم على المعصية باختياره من غير أن يعلم أن الله تعالى قدرها عليه إذ لا يعلم أحد قدر الله تعالى إلا بعد وقوع مقدوره {    •  } ( ) ( سورة لقمان الآية 34 ) فكيف يصح الاحتجاج بحجة لا يعلمها المحتج بها حين إقدامه على ما اعتذر بها عنه، وقد أبطل الله تعالى هذه الحجة بقوله: {                                          } ( ) ( سورة الأنعام الآية 148 ).
ونقول للعاصي المحتج بالقدر: لماذا لم تقدم على الطاعة مقدرا أن الله تعالى قد كتبها لك، فإنه لا فرق بينها وبين المعصية في الجهل بالمقدور قبل صدور الفعل منك ؟ ولهذا لما أخبر النبي  الصحابة بأن كل واحد قد كتب مقعده من الجنة ومقعده من النار قالوا: {أفلا نتكل وندع العمل ؟ قال: لا، اعملوا فكل ميسر لما خلق له} ( ) .
ونقول للعاصي المحتج بالقدر: لو كنت تريد السفر لمكة وكان لها طريقان أخبرك الصادق أن أحدهما مخوف صعب والثاني آمن سهل فإنك ستسلك الثاني ولا يمكن أن تسلك الأول وتقول: إنه مقدر علي، ولو فعلت لعدك الناس في قسم المجانين.
ونقول له أيضا: لو عرض عليك وظيفتان: إحداهما ذات مرتب أكثر فإنك سوف تعمل فيها دون الناقصة، فكيف تختار لنفسك في عمل الآخرة ما هو الأدنى ثم تحتج بالقدر ؟
ونقول له أيضا: نراك إذا أصبت بمرض جسمي طرقت باب كل طبيب لعلاجك وصبرت على ما ينالك من ألم عملية الجراحة وعلى مرارة الدواء فلماذا لا تفعل مثل ذلك في مرض قلبك بالمعاصي ؟
ونؤمن بأن الشر لا ينسب إلى الله تعالى لكمال رحمته وحكمته، قال النبي  {والشر ليس إليك} ( ) رواه مسلم، فنفس قضاء الله تعالى ليس فيه شر أبدا؛ لأنه صادر عن رحمة وحكمة.
وإنما يكون الشر في مقضياته؛ لقول النبي  في دعاء القنوت الذي علمه الحسن: {وقني شر ما قضيت} ( ) فأضاف الشر إلى ما قضاه، ومع هذا فإن الشر بالمقضيات ليس شرا خالصا محضا بل هو شر في محله من وجه، خير من وجه، أو شر في محله، خير في محل آخر.
فالفساد في الأرض من الجدب والمرض والفقر والخوف شر لكنه خير في محل آخر قال الله تعالى: {         ••        } ( ) ( سورة الروم الآية 41 ).
وقطع يد السارق ورجم الزاني شر بالنسبة للسارق والزاني في قطع اليد وإزهاق النفس، لكنه خير لهما من وجه آخر، حيث يكون كفارة لهما، فلا يجمع لهما بين عقوبتي الدنيا والآخرة، وهو أيضا خير في محل آخر حيث إن فيه حماية الأموال والأعراض والأنساب.
فصل
في ثمرات العقيدة السامية المتضمنة لهذه الأصول العظيمة
هذه العقيدة السامية المتضمنة لهذه الأصول العظيمة تثمر لمعتقدها ثمرات جليلة كثيرة.
فالإيمان بالله تعالى وأسمائه وصفاته يثمر للعبد محبة الله وتعظيمه الموجبين للقيام بأمره واجتناب نهيه، والقيام بأمر الله تعالى واجتناب نهيه يحصل بهما كمال السعادة في الدنيا والآخرة للفرد والمجتمع {          •    •       } ( ) ( سورة النحل الآية 97 ).

ومن ثمرات الإيمان بالملائكة:
أولا: العلم بعظمة خالقهم تبارك وتعالى وقوته وسلطانه.
ثانيا: شكره تعالى على عنايته بعباده، حيث وكل بهم من هؤلاء الملائكة من يقوم بحفظهم وكتابة أعمالهم وغير ذلك من مصالحهم.
ثالثا: محبة الملائكة على ما قاموا به من عبادة الله تعالى على الوجه الأكمل واستغفارهم للمؤمنين.
ومن ثمرات الإيمان بالكتب:
أولا: العلم برحمة الله تعالى وعنايته بخلقه، حيث أنزل لكل قوم كتابا يهديهم به.
ثانيا: ظهور حكمة الله تعالى حيث شرع في هذه الكتب لكل أمة ما يناسبها، وكان خاتم هذه الكتب القرآن العظيم مناسبا لجميع الخلق في كل عصر ومكان إلى يوم القيامة.
ثالثا: شكر نعمة الله تعالى على ذلك.
ومن ثمرات الإيمان بالرسل:
أولا: العلم برحمة الله تعالى وعنايته بخلقه، حيث أرسل إليهم أولئك الرسل الكرام للهداية والإرشاد.
ثانيا: شكره تعالى على هذه النعمة الكبرى.
ثالثا: محبة الرسل وتوقيرهم والثناء عليهم بما يليق بهم؛ لأنهم رسل الله تعالى وخلاصة عبيده، قاموا لله بعبادته وتبليغ رسالته والنصح لعباده والصبر على أذاهم.
ومن ثمرات الإيمان باليوم الآخر:
أولا: الحرص على طاعة الله تعالى رغبة في ثواب ذلك اليوم، والبعد عن معصيته خوفا من عقاب ذلك اليوم.
ثانيا: تسلية المؤمن عما يفوته من نعيم الدنيا ومتاعها بما يرجوه من نعيم الآخرة وثوابها.

ومن ثمرات الإيمان بالقدر:
أولا: الاعتماد على الله تعالى عند فعل الأسباب؛ لأن السبب والمسبب كلاهما بقضاء الله وقدره.
ثانيا: راحة النفس.. طمأنينة القلب؛ لأنه متى علم أن ذلك بقضاء الله تعالى وأن المكروه كائن لا محالة ارتاحت النفس واطمأن القلب ورضي بقضاء الرب، فلا أحد أطيب عيشا وأريح نفسا وأقوى طمأنينة ممن آمن بالقدر.
ثالثا: طرد الإعجاب بالنفس عند حصول المراد؛ لأن حصول ذلك نعمة من الله بما قدره من أسباب الخير والنجاح، فيشكر الله تعالى على ذلك ويدع الإعجاب.
رابعا: طرد القلق والضجر عند فوات المراد أو حصول المكروه؛ لأن ذلك بقضاء الله تعالى الذي له ملك السماوات والأرض وهو كائن لا محالة فيصبر على ذلك ويحتسب الأجر. وإلى إذا يشير الله تعالى بقوله: {                  •                   •    } ( ) ( الحديد الآيتان 22، 23 ).
فنسأل الله تعالى أن يثبتنا على هذه العقيدة وأن يحقق لنا ثمراتها، ويزيدنا من فضله، وأن لا يزيغ قلوبنا بعد إذ هدانا، وأن يهب لنا منه رحمة إنه هو الوهاب والحمد لله رب العالمين. وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى الله وأصحابه والتابعين لهم بإحسان.
تمت
بقلم مؤلفها
محمد الصالح العثيمين
في 30 شوال 1404 هـ



فهرس الآيات
إذ يتلقى المتلقيان عن اليمين وعن الشمال قعيد 15
أفحكم الجاهلية يبغون ومن أحسن من الله حكما لقوم يوقنون 8
أفلا يتدبرون القرآن ولو كان من عند غير الله لوجدوا فيه اختلافا 13
ألم تعلم أن الله يعلم ما في السماء والأرض إن ذلك في كتاب إن ذلك 26
إلى ربها ناظرة 11
أليس الله بأحكم الحاكمين 8
إن الدين عند الله الإسلام وما اختلف الذين أوتوا الكتاب إلا من 20
إن الذين يكفرون بالله ورسله ويريدون أن يفرقوا بين الله ورسله 21
إن الله عنده علم الساعة وينزل الغيث ويعلم ما في الأرحام وما تدري 5, 28
إن الله لعن الكافرين وأعد لهم سعيرا 25
إن تكفروا فإن الله غني عنكم ولا يرضى لعباده الكفر وإن تشكروا 9
إن ربكم الله الذي خلق السماوات والأرض في ستة أيام ثم استوى على 7
إن هو إلا عبد أنعمنا عليه وجعلناه مثلا لبني إسرائيل 20
إنا أنزلنا التوراة فيها هدى ونور يحكم بها النبيون الذين أسلموا 16
إنا أوحينا إليك كما أوحينا إلى نوح والنبيين من بعده وأوحينا إلى 18
إنا نحن نزلنا الذكر وإنا له لحافظون 16
إنما أمره إذا أراد شيئا أن يقول له كن فيكون 11
أو يزوجهم ذكرانا وإناثا ويجعل من يشاء عقيما إنه عليم قدير 5
أولئك هم الكافرون حقا وأعتدنا للكافرين عذابا مهينا 21
اصبر على ما يقولون واذكر عبدنا داود ذا الأيد إنه أواب 19
اقرأ كتابك كفى بنفسك اليوم عليك حسيبا 23
الذين تتوفاهم الملائكة طيبين يقولون سلام عليكم ادخلوا الجنة بما 25
الله لا إله إلا هو الحي القيوم لا تأخذه سنة ولا نوم له ما في 4, 7, 11
الله لا إله إلا هو ليجمعنكم إلى يوم القيامة لا ريب فيه ومن أصدق 6
تبارك الذي نزل الفرقان على عبده ليكون للعالمين نذيرا 19
تلفح وجوههم النار وهم فيها كالحون 23
تلك الرسل فضلنا بعضهم على بعض منهم من كلم الله ورفع بعضهم درجات 8, 27
جزاؤهم عند ربهم جنات عدن تجري من تحتها الأنهار خالدين فيها أبدا 9
جنات عدن يدخلونها ومن صلح من آبائهم وأزواجهم وذرياتهم والملائكة 15
حرمت عليكم الميتة والدم ولحم الخنزير وما أهل لغير الله به والمنخنقة 20
خالدين فيها أبدا لا يجدون وليا ولا نصيرا 25
ذرية من حملنا مع نوح إنه كان عبدا شكورا 19
ذلكم الله ربكم لا إله إلا هو خالق كل شيء فاعبدوه وهو على كل شيء 26
رب السماوات والأرض وما بينهما فاعبده واصطبر لعبادته هل تعلم له 4
رسلا مبشرين ومنذرين لئلا يكون للناس على الله حجة بعد الرسل وكان 18, 28
رسولا يتلو عليكم آيات الله مبينات ليخرج الذين آمنوا وعملوا الصالحات 25
سلام عليكم بما صبرتم فنعم عقبى الدار 15
سيقول الذين أشركوا لو شاء الله ما أشركنا ولا آباؤنا ولا حرمنا 28
شرع لكم من الدين ما وصى به نوحا والذي أوحينا إليك وما وصينا به 18
شهر رمضان الذي أنزل فيه القرآن هدى للناس وبينات من الهدى والفرقان 16
ظهر الفساد في البر والبحر بما كسبت أيدي الناس ليذيقهم بعض الذي 30
فأما من أوتي كتابه بيمينه 23
فاطر السماوات والأرض جعل لكم من أنفسكم أزواجا ومن الأنعام أزواجا 5, 7, 11
فسوف يحاسب حسابا يسيرا 23
فسوف يدعو ثبورا 23
فعال لما يريد 8
فلا تعلم نفس ما أخفي لهم من قرة أعين جزاء بما كانوا يعملون 24
فمن ثقلت موازينه فأولئك هم المفلحون 23
فمن يعمل مثقال ذرة خيرا يره 23
فويل للذين يكتبون الكتاب بأيديهم ثم يقولون هذا من عند الله ليشتروا 17
قل إن كنتم تحبون الله فاتبعوني يحببكم الله ويغفر لكم ذنوبكم والله 9
قل إني لا أملك لكم ضرا ولا رشدا 19
قل إني لن يجيرني من الله أحد ولن أجد من دونه ملتحدا 19
قل لا أقول لكم عندي خزائن الله ولا أعلم الغيب ولا أقول لكم إني 19
قل لا أملك لنفسي نفعا ولا ضرا إلا ما شاء الله ولو كنت أعلم الغيب 19
قل لو كان البحر مدادا لكلمات ربي لنفد البحر قبل أن تنفد كلمات 6
قل نزله روح القدس من ربك بالحق ليثبت الذين آمنوا وهدى وبشرى للمسلمين 6
قل ياأيها الناس إني رسول الله إليكم جميعا الذي له ملك السماوات 20
كذبت قوم نوح المرسلين 21
كلا إذا دكت الأرض دكا دكا 8
كنتم خير أمة أخرجت للناس تأمرون بالمعروف وتنهون عن المنكر وتؤمنون 21
لا تدركه الأبصار وهو يدرك الأبصار وهو اللطيف الخبير 11
لا يسبقونه بالقول وهم بأمره يعملون 14
لا يكلف الله نفسا إلا وسعها لها ما كسبت وعليها ما اكتسبت ربنا 28
لقد أرسلنا رسلنا بالبينات وأنزلنا معهم الكتاب والميزان ليقوم 15
لقد كفر الذين قالوا إن الله هو المسيح ابن مريم قل فمن يملك من 17
لكي لا تأسوا على ما فاتكم ولا تفرحوا بما آتاكم والله لا يحب كل 32
لله ملك السماوات والأرض يخلق ما يشاء يهب لمن يشاء إناثا ويهب 4
لمن شاء منكم أن يستقيم 27
له مقاليد السماوات والأرض والذين كفروا بآيات الله أولئك هم الخاسرون 27
له مقاليد السماوات والأرض يبسط الرزق لمن يشاء ويقدر إنه بكل شيء 5
ما أصاب من مصيبة في الأرض ولا في أنفسكم إلا في كتاب من قبل أن 32
ما كان لبشر أن يؤتيه الله الكتاب والحكم والنبوة ثم يقول للناس 17
ما كان محمد أبا أحد من رجالكم ولكن رسول الله وخاتم النبيين وكان 18
ما يلفظ من قول إلا لديه رقيب عتيد 15
من الذين هادوا يحرفون الكلم عن مواضعه ويقولون سمعنا وعصينا واسمع 17
من جاء بالحسنة فله عشر أمثالها ومن جاء بالسيئة فلا يجزى إلا مثلها 23
من عمل صالحا من ذكر أو أنثى وهو مؤمن فلنحيينه حياة طيبة ولنجزينهم 30
من كفر بالله من بعد إيمانه إلا من أكره وقلبه مطمئن بالإيمان ولكن 10
نساؤكم حرث لكم فأتوا حرثكم أنى شئتم وقدموا لأنفسكم واتقوا الله 27
هو الذي أنزل عليك الكتاب منه آيات محكمات هن أم الكتاب وأخر متشابهات 13
هو الله الخالق البارئ المصور له الأسماء الحسنى يسبح له ما في 4
هو الله الذي لا إله إلا هو الملك القدوس السلام المؤمن المهيمن 4
هو الله الذي لا إله إلا هو عالم الغيب والشهادة هو الرحمن الرحيم 4
وإذ أخذنا من النبيين ميثاقهم ومنك ومن نوح وإبراهيم وموسى وعيسى 18
وأما من أوتي كتابه وراء ظهره 23
وإن طائفتان من المؤمنين اقتتلوا فأصلحوا بينهما فإن بغت إحداهما 9
وإن منهم لفريقا يلوون ألسنتهم بالكتاب لتحسبوه من الكتاب وما هو 17
وأنزلنا إليك الكتاب بالحق مصدقا لما بين يديه من الكتاب ومهيمنا 16
وأنفقوا في سبيل الله ولا تلقوا بأيديكم إلى التهلكة وأحسنوا إن 9
وإنه لتنزيل رب العالمين 6
واذكر عبادنا إبراهيم وإسحاق ويعقوب أولي الأيدي والأبصار 19
واصنع الفلك بأعيننا ووحينا ولا تخاطبني في الذين ظلموا إنهم مغرقون 10
والذين جاءوا من بعدهم يقولون ربنا اغفر لنا ولإخواننا الذين سبقونا 22
والله خلقكم وما تعملون 27
والله يريد أن يتوب عليكم ويريد الذين يتبعون الشهوات أن تميلوا 8
وتمت كلمة ربك صدقا وعدلا لا مبدل لكلماته وهو السميع العليم 6
وجاء ربك والملك صفا صفا 8
وجوه يومئذ ناضرة 11
وجيء يومئذ بجهنم يومئذ يتذكر الإنسان وأنى له الذكرى 8
ورسلا قد قصصناهم عليك من قبل ورسلا لم نقصصهم عليك وكلم الله موسى 5
وعنده مفاتح الغيب لا يعلمها إلا هو ويعلم ما في البر والبحر وما 5
وقالت اليهود يد الله مغلولة غلت أيديهم ولعنوا بما قالوا بل يداه 10
وقالوا اتخذ الرحمن ولدا سبحانه بل عباد مكرمون 14
وقفينا على آثارهم بعيسى ابن مريم مصدقا لما بين يديه من التوراة 16
وقل الحق من ربكم فمن شاء فليؤمن ومن شاء فليكفر إنا أعتدنا للظالمين 24
وكأين من نبي قاتل معه ربيون كثير فما وهنوا لما أصابهم في سبيل 9
وكذلك جعلنا لكل نبي عدوا شياطين الإنس والجن يوحي بعضهم إلى بعض 27
وكل إنسان ألزمناه طائره في عنقه ونخرج له يوم القيامة كتابا يلقاه 23
ولا أقول لكم عندي خزائن الله ولا أعلم الغيب ولا أقول إني ملك 19
ولا ينفعكم نصحي إن أردت أن أنصح لكم إن كان الله يريد أن يغويكم 8
ولقد خلقنا السماوات والأرض وما بينهما في ستة أيام وما مسنا من 11
ولما جاء موسى لميقاتنا وكلمه ربه قال رب أرني أنظر إليك قال لن 5
وله من في السماوات والأرض ومن عنده لا يستكبرون عن عبادته ولا 14
ولو أرادوا الخروج لأعدوا له عدة ولكن كره الله انبعاثهم فثبطهم 9, 27
ولو أنما في الأرض من شجرة أقلام والبحر يمده من بعده سبعة أبحر 6
وما تشاءون إلا أن يشاء الله رب العالمين 27
وما قدروا الله حق قدره إذ قالوا ما أنزل الله على بشر من شيء قل 17
وما قدروا الله حق قدره والأرض جميعا قبضته يوم القيامة والسماوات 10
وما لكم ألا تنفقوا في سبيل الله ولله ميراث السماوات والأرض لا 22
وما من دابة في الأرض إلا على الله رزقها ويعلم مستقرها ومستودعها 5
ومصدقا لما بين يدي من التوراة ولأحل لكم بعض الذي حرم عليكم وجئتكم 16
ومن أظلم ممن افترى على الله كذبا أو قال أوحي إلي ولم يوح إليه 26
ومن خفت موازينه فأولئك الذين خسروا أنفسهم في جهنم خالدون 23
ومن يبتغ غير الإسلام دينا فلن يقبل منه وهو في الآخرة من الخاسرين 20
ومن يعمل مثقال ذرة شرا يره 23
وناديناه من جانب الطور الأيمن وقربناه نجيا 6
ونفخ في الصور فصعق من في السماوات ومن في الأرض إلا من شاء الله 22
وهو القاهر فوق عباده وهو الحكيم الخبير 7
ووهبنا لداود سليمان نعم العبد إنه أواب 20
ويبقى وجه ربك ذو الجلال والإكرام 10
ويصلى سعيرا 23
ويعذب المنافقين والمنافقات والمشركين والمشركات الظانين بالله 10
وينقلب إلى أهله مسرورا 23
ياأهل الكتاب قد جاءكم رسولنا يبين لكم كثيرا مما كنتم تخفون من 17
ياأيها الذين آمنوا من يرتد منكم عن دينه فسوف يأتي الله بقوم يحبهم 9
يثبت الله الذين آمنوا بالقول الثابت في الحياة الدنيا وفي الآخرة 15, 25
يسبحون الليل والنهار لا يفترون 14
يوم تقلب وجوههم في النار يقولون ياليتنا أطعنا الله وأطعنا الرسول 25
يوم نطوي السماء كطي السجل للكتب كما بدأنا أول خلق نعيده وعدا 22

فهرس الأحاديث
أفلا نتكل وندع العمل ؟ قال لا، اعملوا فكل ميسر لما خلق له 29
إنه أعور وإن ربكم ليس بأعور 10
حجابه النور لو كشفه لأحرقت سبحات وجهه ما انتهى إليه بصره من خلقه 10
من يدعوني فأستجيب له من يسألني فأعطيه من يستغفرني فأغفر له 7
والشر ليس إليك 29
وقني شر ما قضيت 30



الفهرس
تقديم 2
المقدمة 3
عقيدتنا 4
فصل في الاعتماد في الإثبات والنفي على الكتاب والسنة وفهم سلف الأمة 13
فصل في الإيمان بالملائكة 14
فصل في الإيمان بكتب الله على رسله 15
فصل في الإيمان بالرسل 18
فصل في الإيمان باليوم الآخر 22
فصل في الإيمان بالقدر خيره وشره 26
فصل في ثمرات العقيدة السامية المتضمنة لهذه الأصول العظيمة 30
فهرس الآيات 34
فهرس الأحاديث 39
الفهرس 40